Invictus


Baru saja menamatkan Invictus. Bukan tipe film yang aku suka sebenarnya, tapi penasaran karena Matt Damon jadi nominasi aktor pembantu pria di Golden Globe kemarin dalam film ini. Tapi jalan ceritanya bagus, sederhana sebenarnya, tapi agak berat menurutku, dalam artian membosankan, bahkan Matt Damon tidak membantu film ini terlihat lebih menarik.

Inti ceritanya bagaimana cara Mandela menemukan cara untuk mengurangi perselisihan antara kulit putih dan kulit hitam, yaitu melalui rugby. Olah raga yang sebenarnya tidak menonjol karena jarang memberi prestasi bagi Afrika Selatan. Namun, dengan memberikan inspirasi kepada tim rugby yang dipimpin oleh Francois Pienaar (Matt Damon) akhirnya tim ini dapat memenanngi pertandingan demi pertandingan hingga akhirnya dapat mengalahkan Inggris di final Rugby World Cup. Perjalanan tim rugby ini memberi semangat bukan hanya bagi tim sendiri tapi juga bagi masyarakat. Masyarakat jadi lebih menyatu. Hemm, hampir sama kayak kita, orang Indonesia nonton kejuaraan badminton. Misalnya, piala Uber yang terakhir kemarin, berasakan ada sesuatu yang membuat kita lebih menyatu? Okey, agak lebay, tapi adakan ”sesuatu” dari kemenangan itu yang berdampak untuk kita kan? Nah, gitu juga dengan cerita di film ini, tapi lebih besar. Kemenangan tim rugby ini secara gak langsung dapat memperbaiki hubungan antara kulit hitam dan kulit putih. Kulit hitam dapat mulai memaafkan kulit putih dan kulit putih dapat mulai menghargai keberadaan kulit hitam. Itu sih intinya.

Dan btw, Matt Damon ga cakep rambut pirang gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s