Advocats and Their Glamorous Lifestyle


Menarik sekali membaca halaman “Kehidupan” yang dimuat dalam Kompas Minggu, 31 Januari 2010. Topik yang diangkat adalah kehidupan mewah para pengacara tenar di Indonesia. Ada Hotman Paris Hutapea, Elza Syarief, dan OC Kaligis.

Yang menarik bagiku adalah berapa bayaran yang mereka terima per jam nya untuk setiap kasus yang dihadapi. Hotman memasang tarif 100.000 dollar AS. Sedang OC Kaligis  menetapkan tarif untuk jasanya sebesar 500 dollar AS per jamnya. Apa memang bayaran pengacara semahal itu ya?? Tau gitu kemarin aku daftar masuk Fakultas Hukum aja. Egh, tapi bayaran psikolog mahal juga dehh.. ;p

Dengan gaji yang di “atas” rata-rata itu, mereka bisa hidup dengan tampilan glamour, flamboyan. Mobil mewah yang cuma bisa dipakai 10 menitan sehari, rumah yang banyaknya minta ampun, beli tanah, punya jam tangan bagus, bisa nyekolahin anak ke luar negri, bisa pindah-pindah pula tu dari Prancis ke NY ke LA.

Tapi ada bagian dari tulisan itu yang kurang aku suka. Ketika Hotman ditanya, apa ia tidak merasa risih mengendarai mobil-mobil mewahnya di tengah kemiskinan yang mencolok, dia Cuma menjawab, ”kemiskinan memacu saya untuk bekerja keras. Karena salah satu faktor kemiskinan adalah kemalasan. Jadi ini menjadi dorongan bagi saya.” Kok berasa jawaban yang dia kasi gak nyambung yaa? Kemiskinan mendorong dia? Mendorong untuk menimbun harta gitu maksudnya? Gak nyentuh gitu.

Selain itu aku juga kurang setuju dengan pemikiran dia yang berharap semua anak-anaknya bisa mengikuti jejaknya menjadi pengacara. Bahkan kalau bisa menjadi pengacara yang lebih berlebih internasional dari pada dirinya. Untung-untung kalo emang anaknya minat jadi pengacara juga. Nah, kalo anaknya gak minat gimana? Tapi tetep dipaksain karena, orang tuanya tau jenis pekerjaan itu akan menjanjikan hidup yang mapan. Harusnyakan dia, dan orang-orang tua lain yang punya pemikiran sempit sama kayak dia, membebaskan anak-anaknya memilih akan menjadi apa mereka nanti, memberi saran, dan mendukung. Itu aja kok. Gak perlu kayaknya memetakan jalan hidup anak nantinya bagaimana.. orang tua hanya membuat sketsa, anak yang bertugas menebalkan garis-garis dari sketsa tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s