Expectation


Satu hal yang sering mengganggu bagiku ketika orang-orang tau major yang aku ambil di kuliahan adalah ekspektasi mereka.

Ekspektasi kalau mereka bisa menceritakan masalah-masalah mereka dan berharap mendapat jawaban-jawaban atau masukan-masukan yang bisa membantu memecahkan masalah mereka.

Tapi, sayangnya, sering kali apa yang aku sampaikan ternyata tidak menimbulkan rasa “puas”. Maka jatuhlah ekspektasi tadi. Dan sering diikuti dengan kalimat,”Tapi kamu anak psikologi..?”.

Oke, saya memang anak psikologi, tapi bukan berarti saya terlahir untuk menjadi seorang psikolog yang dengan bijak bisa memberi jawaban-jawaban yang “memuaskan”.

Psikologi baru terlintas di otak saya beberapa tahun yang lalu. Empat tahun lalu tepatnya (sebulan sebelum pelaksanaan SPMB untuk lebih tepatnya). And yes, honestly I have to admit, this is just not my world. This is not what I want. This is not my dream (I know it sounds wrong). But I chose this path and I put effort to fit in this major.

Alhamdulillah, I survive. And luckyly found out this major wasn’t that bad. It helps me. I learned how to know and understand my environment, my friends, my family, and most of all, my self. Kinda like self-curing.

Aku masih berada dalam tahapan menggunakan ilmu-ilmu yang didapat untuk “menyembuhkan diri sendiri”. Masih berada dalam tahapan penyesuaian dan mencari. Mencari letak kenyamanan di bidang ini.

Kalau dibolehkan, mungkin ini bisa menjadi alasanku, kenapa ekspektasi-ekspetasi itu bisa jatuh. Kenapa aku belum, atau mungkin, ga bisa memberi jawaban yang bijak. Tapi, sebagai calon psikolog, tentu aku ga bisa memaksakan “klien” untuk memahami bagaimana kondisi psikolognya. Dimana-mana mah, selalu psikolog yang memahami kondisi kliennya. Ga peduli gimana kondisi atau kapabilitas si psikolog.

Aku sempat mengalami saat ketika ada orang yang mau curhat, di dalam hati akunya yang,“Aduhhhh, mau ngasi respon apa nanti?”. Tapi kemudian aku mencoba meyakinkan diriku, kalau terus-terusan seperti itu, aku ga bisa belajar untuk naik ke tahapan yang lebih tinggi. Dari situ, aku mulai mencoba menjawab sesuai dengan kemampuanku. Mau responnya nyambung atau ga, yang penting aku mencoba. Kalau ternyata yang aku sampaikan bisa membantu, ya Alhamdulillah. Kalau ga membantu, masih banyak kok psikolog-psikolog lain yang siap membantu Anda😀

And just so you know, not only other who put expectation on me, but also my self. Aku sendiri juga berharap aku bisa memberi sesuatu. Tapi kalau ternyata ekspektasi itu belum bisa terpenuhi sekarang. I believe in time it will.

7 thoughts on “Expectation

  1. Tiga hari belakangan terkahir, aku bertemu dengan tiga orang Ibu rumah tangga yang curhat tentang masalahnya. Dan dari tiga orang itu, dua orang mengatakan semacam, “Datang ke psikolog itu kayak ngomong2 aja. Trus udah kita ada masalah, terus digali-gali. Makin stres yang datang. Harusnya kan ga gitu Dek? Ini masukan lah buat kamu ya nanti kalau jadi psikolog!”. Tapi, percuma kan menjelaskan bahwa pertanyaan “lagi, lagi” dari psikolog itu merupakan bagian penting dalam proses konseling, karena selain butuh waktu yang panjang juga si Ibu juga akan sulit mengerti (karena sudah memiliki konsep sendiri). Aku cuma tersenyum. Dan… setelah itu, dia curhat panjang… Dan tentu saja aku berkata “lagi, terus, lalu, hmm…”. Dan pada akhirnya, dia merasa lebih lega. Malah sekarang ketagihan pengen curhat mulu.

    Well, intinya menurutku nih Dev, mereka (klien) tidak menyadari alasan dari respon yang kita berikan (karena kita belajar psikologi dan mereka tidak), maka… biarkan saja mereka berkomentar apapun! Wajar lah… wong mereka ga ngerti. Kita tetap saja melangkah dengan apa yang kita yakini. Respon-respon kita memang akan sering ditanggapi “Cuma gitu?” atau “Aku pun tahu kalau harus gitu!” atau “Kupikir ntah ada yang harus kulakukan menurutmu?! Tapi katanya kau anak psikologi”… Biar saja…. Tugas kita bukan mengatakan apa yang menyenangkan hati orang, tapi mengatakan apa yang sebenarnya. Diterima atau tidak, itu adalah hak dari klien. Dicemooh atau dipuji, biarkan menjadi urusan mereka.

    Bravo, Bella!🙂

    1. menarik tuh curhatan si ibu2..
      nah tadi aku sempet mikir.. kalau cewek yang curhat kayaknya tujuan dia untuk curhat itu lebih ke “aku mau cerita, dengerin dong” hanya butuh untuk didengar, dia g peduli gmn respon kita, seringnya bukan respon kita yg buat dia lega,, tpi proses dia menceritakan same selesai itu yg buat dia lega..
      Nah, tpi kebalikan sama cowok, mereka mungkin karena lebih make logika, jdi pengennya lebih ke arah pemecahan langsung gt bukan?
      gmn menurutmu?

  2. Bingo! Wanita bercerita untuk “sharing feeling” agar lebih lega. Pria bercerita untuk “solve problem”. Memang sudah ter-setting seperti itu, walaupun ada beberapa wanita yang cukup seimbang waktu sharing dengan “Yok, kita cari solusinya. Menurut pandangan Anda, sebaiknya apa solusinya?” (dan aku yakin psikolog profesional manapun ga akan memberi solusi langsung!).

    So, menurutku… pertama kita harus tahu KEBUTUHAN klien. Just for sharing to feel better kah tanpa kita harus beri solusi OR sharing to get a good solution… Kalau sudah tahu motivasinya (dan anak psikologi punya insting yang kuat untuk mengetahui motivasi seseorang curhat), kita tentu bisa lebih bijak memberikan respon.

    Anyway, dalam menuliskan paragraf kedua di atas, aku jadi teringat ucapan khas dari someone in my past, “Sometimes, aku hanya ingin didengarkan. Ingin ada seseorang yang bisa menerima ceritaku apa adaku. Even, just need a shoulder to cry on, tanpa dia harus kasih solusi. Didengerin aja. Then I can feel better, because I know I’m not alone to face this life!” (ehm, jadi curcol pulak di blog mbak Devi).

    1. I’ll note that. Pahami dulu kebutuhannya..
      berarti kadang2 cowok juga bisa “just to need someone to cry on”? ehh bukan to cry on, but to feel that he’s not alone facing this life. Hoo. nice info!!
      Intinya, mau apa pun respon kita, yg plh penting adalah, kita mendngarkn dulu kan?
      karena yang dibutuhkan itu sebenarnya proses “mendengar” itu
      kalo g didengar gmn juga kita bisa ngasi respon kan ya..
      hmm. Aku suka obrolan ini :-bd

  3. Hmmmm… gitu deh kira-kira🙂
    Makanya aku inget bener pesan Bu Diah waktu kelas Wawancara dulu, “Orang kalau dateng ke psikolog itu pengen didengerin. Jadi psikolog itu sebaiknya mulutnya cuma satu dan telinganya dua. Dengerin…”

    1. ahahahahaha
      iyaa,, nasihat lama tuh, “kita dikasi 2 telinga biar kita lebih banyak mendengar dripada berbicara”
      sering banget disebut guru2 klo murid2nya bising nauzubillah di kelas :))

  4. hmm, this topic seems like deja vu to me..
    [imho] pada dasarnya sih, dalam merespons sesuatu yg ditanyakan orang lain itu..kita bisa berdiri sebagai diri kita sendiri (gunakan pemikiran sendiri) atau sebagai siswa SMA/psikolog/dokter/engineer dll (karier ato majority yg kita pelajari)
    bisa jadi pemikiran kita dari kedua sisi itu sama ato sebaliknya tidak.

    kalo kau mau jawab sebagai seorang psikolog, ya kau harus punya dasar2 psikologis untuk menjawab pertanyaannya..nah,kalo gak nemu dasar psikologisnya ya kau jawab dari sisi lain td, yakni sebagai diri kau sendiri..kalo menjawab dari sisi itu, tidak ada dasar yg bisa membuat kita “salah” karena pemikiran diri manusia masing2 itu punya dasar yg “beda”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s