A Little Story from Beijing


I just had my vacation to Beijing last week. Pas pertama denger kalau mau liburan ke Beijing, sejujurnya kurang antusias, karena China bukan salah satu dalam list negara yang pengen aku kunjungin. Tapi ya namanya diajak liburan, masak iya sih mau nolak?

Ga begitu banyak yang pengen aku ceritain dari liburan ini. Karena pulang-pulang juga berasa biasa aja. Menurutku ga ada sesuatu yang WOW dari Beijing.

Kenapa?

Pertama, makanannya. Ini hal yang paling basic dan paling penting untuk dipuaskan saat jalan-jalan.

Apa sih yang paling ditunggu kalau lagi jalan-jalan dan nginap di hotel? Breakfast! Simply because you can load up your plate many times until you filled your tummy well. Tapi karena aku Muslim, tentunya susah untuk bisa menikmati semua menu breakfast yang tersedia. Hanya berkisar sama sereal, roti, telur rebus.

Selain sarapan, makanan China sendiri rasanya ga enak. Memang sih kita ga diajak makan ke fancy restaurant. Cuma restoran-restoran sederhana. Makanan yang disajikan kebanyakan menunya daging sapi, ayam, bebek atau daging kambing. I’ll go along with all this kind of meat, asalkan ga berbau. Nah, tapi sayangnya, kebanyakan restoran yang didatangin, dagingnya masih pada bau (tau kan gimana bau daging yang “daging”, lebih parah lagi kalau daging kambing! Nyerah deh).

Di setiap sesi makan selalu dapat menu sup. Supnya juga macem-macem versinya. Ada sup yang tawar isinya cuma telur sama tomat. Ada sup yang pakai kaldu ayam tapi kaldunya masih bau amis gitu (karena kurang rempah-rempah mungkin ya).

Ada juga restoran yang dagingnya bersih, tapi makanannya bau jamu-jamuan. You got the feeling?

Kita pernah sekali diajak ke restoran Thailand. Nah, ini baru makanannya sesuai sama lidah. Puas banget! Tapi restorannya sepi. Katanya, orang China ga suka menu-menu Thailand. Padahal makanan Thailand enak-enak banget!!

Selain itu ada ciri khas dalam menu masakan China. Pasti bakal sering nemuin pakai paprika hijau sama cabai kering. Apakah di tumisan ayam, tumisan daging, ikan asam manis. Dan paling jarang nemuin menu udang atau cumi.

Kedua, waktu kemarin di Beijing, cuacanya kurang bagus. Panas, tapi langitnya kotor, berkabut. Jadinya foto-foto yang diambil kurang begitu bagus hasilnya. Apalagi waktu ke Great Wall, susah banget nangkap bagian atasnya karena ketutupan kabut. Untungnya di hari terakhir kita sempat ngerasa cuaca yang lebih enakan cerah dan ga berkabut *happy

Ketiga, Beijing ternyata macet! Untungnya mereka kebanyakan menggunakan kendaraan roda 4, jadi kalau pun macet ga pusing ngeliatin ada pengendara motor nyelip sana sini.

Pengendara mobil di Beijing menurutku kurang sopan sama pejalan kaki. Jauh lebih baik pengendara mobil di Medan kayaknya.

Aku bilang ga sopan karena, walaupun kita nyebrang di zebra cross dan lampunya hijau menandakan memang giliran kita untuk menyebrang, kadang kalau kita cuma nyebrang sendirian atau dalam jumlah kecil, mobilnya ga mau peduli dan tetep aja mau jalan terus, dan kitanya yang harus balik mundur. Ya jadi apa gunanya dong pakai lampu-lampu segala?Berasa kurang peduli sama pejalan kaki.

Masih inget ga sama balita di China yang koma kemudian meninggal setelah ditabrak (lebih tepatnya digilas) 2 kali oleh pengendara mobil? Mungkin tidak adanya kepedulian ini juga menjadi penyebabnya ya?

Tapi di balik jalanannya yang macet, di sepanjang jalan mata kita bakal disuguhin mawar. Mawar di mana-mana. Dan untungnya kita berkunjung pas masih summer, jadi bunganya masih banyak yang bermekaran.

Terus apa yang lumayan berkesan dari Beijing?

Kalau bagi aku sendiri, yang berkesan Great Wall sama Summer Palace.

Pengen ngulang lagi pergi ke Great Wall rasanya. Pengen mendaki lebih tinggi dan jauh lagi. Kemarin cuma dikasi waktu satu setengah jam di Great Wall (untuk kegiatan apa pun). Jadinya aku cuma sempat naik sampai benteng yang pertama (kita pergi ke bagian Badaling). 

Awalnya tuh ngira, “Ahh ndaki Great Wall, paling kayak naik anak tangga biasanya. Ga bakal capek bangetlah”. Begitu nyampe, masih di bagian bawah ngeliatin orang-orang yang baru turun, yang cowok banyak pada uda ngelepas kaos. Trus aku mikir “Apaan deh sampe buka kaos segala?”

Ehh, taunya,, begitu mulai mendaki, ternyata anak tangganya tingi-tinggi, jadinya harus bener-bener manjat, bukan jalan biasa kayak kita lagi naik tangga. Pantes aja pada banyak yang buka kaos, sangking keringetan gara-gara manjatin anak tangganya.

Kalau di Summer Palace kebetulan perginya pas hari terakhir. Jadi cuacanya bagus. Dan tempatnya juga sejuk banget. Banyak pohon-pohon. Di kelilingin danau buatan. Enak banget duduk-duduk di sana. Buat lupa pulang.

Ohh and I got this little cutie from my trip

Now we’re best friend🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s