Dieng Culture Festival 2016


I’ve been planning and waiting for this trip since April!

Selain memang uda dari lama pengen ke Dieng, alasan utama mau ikutan Dieng Culture Festival adalah pengen ngerasain sendiri berdiri di bawah ribuan lampion yang diterbangkan secara bersamaan sambil humming lagu “I see the light”. Cheesy reason I know, but I cant help my self 😆

Day 1

Hari pertama dimulai dengan perjalanan dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto yang memakan waktu kurang lebih 5 jam menggunakan fasilitas kereta ekonomi. 

Nah, buat yang belum pernah naik kereta ekonomi, sedikit tips, bawa bantal leher ya dan kalau bisa duduk dekat jendela. Selain bisa senderan pas tidur, juga dekat sama colokan.

Sesampainya di Purwokerto perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bis menuju Dieng yang mana aku gunakan untuk, tidur lagi. Sampai ga tau kota-kota kecil apa yang kita lewati dan berapa lama waktu tempuh menuju Dieng.

Tiba di Dieng, kita langsung ke homestay. Homestay di sini adalah rumah-rumah warga yang disewakan untuk menjadi penginapan sementara bagi pengunjung yang datang. Homestay yang kita dapat bagus dan bersih, udah ada pemanas airnya juga kalau kita mau mandi. Karena air di Dieng dingin banget! Kayak mandi pakai air es.

Sebelum mulai eksplor wilayah Dieng, kita menikmati menu wajibnya dulu, yaitu Mie Ongklok.

Perjalanan pertama dimulai di kawah Sikidang. Kalau datang ke sini, wajib pakai masker atau pashmina untuk menutupi indra penciuman, karena bau belerangnya tajem banget. Di bagian ujung ada kolam besar yang masih menggelegak dan mengeluarkan asap putih tebal. 

Next kita lanjut ke Batu Ratapan Angin, Telaga Warna dan Jembatan Merah Putih. Ketiga tempat ini berada dalam satu lokasi yang berdekatan. Agendanya ngapain di sini? Yaa… foto-foto 😅

Oh ya, di setiap objek wisata di Dieng pasti ada ibu-ibu yang jual kentang atau jamur yang seperti menjadi hasil bumi utama di Dieng. Kentangnya pulen sih, plus mendukung banget dimakan pas hangat-hangat di tengah suhu Dieng yang dingin (around 16°C kalo siang). Selesai dari Telaga Warna, kita balik ke homestay dan bersiap untuk Jazz Atas Awan day 1. 

Jazz Atas Awan diselenggarakan di dekat pelataran Candi Arjuna. Setiap pengunjung VIP mendapat 1 porsi kentang yang dimasak dengan gravy yang rasanya mirip kuah semur. Kayaknya menunya salah deh ini. Karena akhirnya banyak bertumpahan, padahal kita nontonnya sambil duduk di bawah tanpa ada alas. Buat yang taun depan mau nonton, bisa siapain koran atau terpal untuk alas duduk kalian ya, biar pakaian ga kotor dan juga ga cepat berasa dingin. 

Untuk hari pertama, pengisi acaranya adalah band-band Indie dengan aliran Jazz yang berasal dari luar Jawa Tengah. Kita hanya menyaksikan penampilan dari Glanze (Jakarta) dan Tesla Manaf (Bandung). Glanze bagus deh penampilan panggungnya, suaranya juga bagus, tapi kita lebih banyak ga tau lagu-lagu yang mereka bawain. Padahal badan bawaanya pengen sing along lagu-lagu yang familiar di telinga biar dinginnya ga berasa. Jadi, kita milih buat pulang aja, tidur cepat karena besok kita harus bangun pagi buta buat ngejar sunrise.



Day 2

Hari kedua dimulai dengan bangun jam 3 dini hari. Asli, berasa baru tidur bentar tapi harus siap-siap ngedaki lumayan lama. Dieng dingin banget!!!!!!!!!!! (coba hitung berapa kali gw uda nyebut “dingin” dari tadi).

Medan trackingnya lumayan buat ngelatih otot kaki. Sebaiknya seminggu sebelum ke Dieng, rutin olahraga ya, biar staminanya terlatih jadi ga cepet berasa capek. Ada beberap spot untuk menikmati sunrise di Dieng, puncak Sikunir, bukit Skuter atau bukit Pangonan. Kita milih lokasi terakhir, biar ga ngantri naiknya, padahal tetep aja ngantri 😜

Puas foto-foto di atas bukit Pangonan, kita balik menuju ke bawah, ke savana Pangonan, dan foto-foto lagi.

Sampainya di homestay, kita istirahat dulu sebelum menuju puncak Sikunir.

Pendakian menuju puncak Sikunir lebih pengunjung-friendly, karena uda ada tangga sederhana yang disediakan serta pegangan dari tali tambang besar yang membantu kita untuk mendaki. Sayangnya, sesampainya di atas, lagi mendung. Padahal kalau cerah, kita bisa melihat Gunung Sindoro dari puncak Sikunir. Kita buru-buru balik karena mendung makin tebal. Dan benar, ga lama kemudian hujan turun. Makin licin track yang harus ditempuh.

Sampai ke homestay hujan juga belum menampakkan tanda-tanda berhenti. Udah agak khawatir ga bisa nerbangin lampion, since itu moment yang gw tunggu banget. 
Selepas isya, akhirnya ujan berhenti! Kita buru-buru menuju ke pelataran Candi Arjuna untuk menyaksikan Jazz Atas Awan day 2. Kali ini datang tanpa ekspektasi tinggi. Tapi justru di hari kedua ini lebih bisa menikmati acaranya karena banyak yang membawakan lagu-lagu yang familiar di telinga. Ga berasa dingin deh.

Hari kedua pengisi acaranya full band-band yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. Penampilannya jauh lebih bisa dinikmati, banyak lagu yang bisa dinyanyiin bareng-bareng. Ditambah dengan penampilan dari Anji yange ngebuat suasana menjadi lebih riuh. Gw bukan penikmat lagu-lagunya Anji. Tapi lagu-lagu yang dibawa Anji malam itu berhasil dengan sukses ngebuat gw baper 😣😣

Favorit gw adalah puisi dari Khrisna Pabichara yang dimusikalisasi oleh Anji dan jadi bagus banget. 

Daaaaaaannnnnn akhirnya acara puncak yang gw tungguin. Penerbangan lampion.

That was great night for sure! Cant stop smiling all night.

Day 3

Dan kita memasuki hari terakhir yang menjadi puncak acara, pemotongan rambut anak gembel/gimbal. 

Jadi, katanya untuk pemotongan rambut anak gimbal ini harus melalui ritual khusus. Kalau dipotong dengan cara biasa, anaknya nanti bisa demam dan rambut gimbalnya tumbuh kembali. Nah, anak-anak yang mengikuti proses ritual inu juga hanya anak-anak yang memang mau rambut gimbalnya dipotong, tanpa ada pemaksaan dari orang tuanya. Sebelum rambutnya dipotong, keinginan anak-anak gimbal harus dipenuhi terlebih dahulu. Ada yang minta anak sapi untuk dipelihara, durian 5 buah (gw mah bakal minta setruk kayaknya), baju dengan gambar Frozen, bahkan ada yang cuma minta ikat rambut 2 buah aja. 

Sebelum proses pemotongan, anak-anak ini dikumpulkan di rumah ketua adat. Kemudian mereka diarak menuju Candi Arjuna. Sesampainya di sana baru proses pemotongan dilakukan dengan sebelumnya dibacakan doa-doa yang aku ga paham isi dan artinya karena diucapkan dalam bahasa Jawa. Setelah dipotong, rambut-rambut tersebut nantinya akan dilarung di Telaga Warna untuk menyempurnakan prosesinya. Diyakini dengan mengikuti ritual ini, rambut gimbal tidak akan tumbuh kembali.
So, that’s the end of this AWESOME trip.
Deeply I am truly happy and enjoy it very much. Perjalanan yang menarik bersama orang-orang yang menyenangkan.

 You know that saying “we just met, but I feel like I’ve known you for years”. Persis banget itu yang aku rasain ke teman-teman baru dalam trip ini. Kombinasi pas yang menciptakan memori manis untuk bisa aku ingat dalam waktu yang lama. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s