Review

Aroma Karsa: Jatuh Cinta pada Kata Pertama


I can tell I love to read. But lately I usually think, maybe I used to love reading. Since I more enjoy to watch movies rather than finishing any books I bought. Sering banget baru baca 1 chapter, lalu bukunya teronggok aja gitu tanpa ada keinginan untuk mengintip kisahnya lebih lanjut. Tapi tidak dengan Aroma Karsa. Buku ini seperti pelepas dahaga setelah puasa kata-kata yang begitu panjang. Bagiku, ciri-ciri buku yang bagus itu adalah buku yang membuat aku menunda solat (ihikkkk…) dan yang membuatku bolak balik mengukur sisa ketebalan buku, lalu merasa sedih karena ternyata tinggal sedikit halaman yang belum dibaca. Sedih karena tidak ingin cepat berpisah dari kisah yang menarik. (sama halnya seperti kisah aku dan kamu, sedih karena usainya cepat *sempet aje lu*)

Aroma Karsa adalah karya pertama Dee Lestari yang aku baca. Percayakan kalau karakter seseorang bisa dilihat dari cara ia menulis? Kesan pertamaku terhadap Dee adalah cerdas. Riset mendalam mengenai berbagai nama aroma. Cara penulisan yang berbeda yang membuatku ingin menulis dengan Bahasa Indonesia yang mumpuni setelah selesai melumat seluruh halaman. Dan pembentukan karakter tokoh yang kuat. Sulit loh untuk membangun karakter tokoh yang bisa memotivasi orang ketika membaca. Tapi karakter Jati Wesi membekas banget untukku. Rasanya ingin bisa ikut membaui sesuatu setajam penciuman Jati.

Aroma Karsa bercerita mengenai Raras Prayagung yang berambisi untuk menemukan tanaman langka, Puspa Karsa, yang dipercaya memiliki kekuatan mistis yang dapat membuat seseorang memiliki kuasa untuk merubah nasib, hidup, atau lingkungan sesuai kehendaknya hanya dengan aroma.

Di perjalanan untuk memenuhi ambisinya, Raras mempersiapkan pasukannya dengan matang. Salah satunya adalah tokoh Jati Wesi yang memiliki kemampuan olfaktori melebihi orang pada umumnya. Jati Wesi dapat membaui sesuatu sampai spektrum aroma terkecil, bahkan dapat membaui aroma dari jarak yang jauh. Hidungnya menyelusup membaui bau busuk di TPA Bantar Gebang, sampai aroma memikat dari berbagai biang parfum di Paris.

Gak, aku ga bakal bercerita panjang lebar mengenai alur ceritanya. Udah baca aja sendiri deh.

Hal lain yang menarik dari novel ini adalah bagaimana Dee mengajak kita berada di tiga dunia yang berbeda. Diawali dengan lingkungan awal Jati yang kumuh di Bantar Gebang. Bagaimana peliknya kehidupan yang serba kekurangan dapat membangun karakter yang tahan banting. Lalu perlahan diajak mencicipi indahnya kehidupan mewah di mana segala sesuatu bisa didapat dengan mudahnya dalam dunia Raras Prayagung. Dan akhirnya, semua realita indah tadi berlabuh di suatu desa tak kasat mata, Dwarapala, yang dipercaya sebagai lokasi Puspa Karsa berada.

Aroma Karsa berhasil membuatku terhanyut dalam imajinasiku lagi. Membangun bagaimana bentuk Jati Wesi. Bagaimana tatanan desa Dwarapala. Dan membuat weekendku terasa begitu jauh dari hiruk pikuk Jakarta, tersesat dalam berbagai aroma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s