Life

How to Heal a Broken Heart


I was in a battle whether or not to post this topic. Karena sarat dengan “membicarakan orang lain”. (If you read this, well this is my version, you can add yours in your own story). Tapi melihat dua orang terdekat sedang dalam fase ini, rasanya patut untuk berbagi.

Dulu aku pernah tertarik dengan seorang pria, let’s call him Jack. Proses pedekate berjalan dengan cute pada awalnya. Sampai aku menyadari, I’m not the only one in his radar. Di saat yang sama, Jack juga kembali membangun hubungan dengan mantannya. Aku yang menyadari kondisi ini, berubah menjadi kompetitif. I was trying so hard to win his heart. I turned from liking to obsessing him. Like, I would do everything to get his attention, even foolish things.

Teman-teman terdekat sudah mengutarakan pendapat, “he doesn’t deserve you” or something similar. But I was so stubborn and I didn’t listen to them. Malah makin terpicu untuk membuktikan “Kalian semua salah”. Long story short, akhirnya dia memilih si mantan. And how do I knew it? Karena si mantan post foto berdua berpegangan tangan di kondangan. Aku tau bukan dari mulutnya sendiri, tapi dari postingan si mantan.

Asli, gw pas liat postingan itu langsung panas. If you know how my temper is, you can imagine my reaction. I was super mad! Aku ingat semua kata makian yang aku lempar langsung ke mukanya. Bahkan bisa mengingat dengan jelas tanganku yang melayang dengan mulus ke pipinya. I was literally like “emak-emak murka”. Marahnya menjalar sampai ke nadi yang terhalus. Belum pernah aku semarah itu dalam hidupku.

Hari-hariku berikutnya diisi dengan rutinitas mendengarkan playlist patah hati, menatap kosong layar PC, dan nangis. Aku lupa ini berlangsung berapa lama. But it was more than a week, karena rutinitas ini akhirnya membuat bos ku sendiri aware that there was something happened with me. Aware dalam artian, jadi jarang diajak diskusi kerjaan, karena kalo diajak diskusi biasanya mataku masih sembab abis nangis. *Cih!*

I have been broken hearted before. But this one, was the ULTIMATE pain. Sakit banget. Menusuk-nusuk dalam. Mengacak-ngacak ketenteraman hati dan pikiran. Bukan ga terpikirku untuk membalas rasa sakit ini.

And that’s the point ketika aku sadar “kok aku jadi begini ya?” Sampai punya niatan jahat. Menurutku itu uda devilish banget. Sampai-sampai ketika solat aku berdoa untuk dijauhkan dan dilindungi dari pikiran-pikiran buruk tadi. Aku beneran takut kemarahanku berubah bentuk menjadi tindakan nyata.

Lalu proses healing dimulai. Apa aja yang aku lakukan?

  1. Hal pertama yang aku lakukan adalah mendekatkan diri kembali ke Allah. Aku menyadari selama menghabiskan waktu dengan Jack, banyak hal-hal yang berhubungan dengan ibadah yang kualitasnya menurun. Perlahan aku perbaiki lagi solatku. Aku tutup auratku. Untuk memberi batasan terhadap hal-hal yang ingin kuhindari tadi.
  2. Biasanya ketika patah hati, adalah hal yang lumrah bagiku untuk menuangkannya di dalam buku harianku. Tapi gak dengan Jack. Sepertinya ini luka yang teramat sangat, hingga menuliskannya saja aku ga sanggup. Ga sanggup merasakan kembali rasa sakit tadi di setiap goresan kata yang kutuangkan.
  3. I stop being friend with him in social media and in real life. Aku selalu buang muka ketika berpapasan dengan Jack (forgot to mention, we are workmate).
  4. Aku balik melakukan hal-hal yang membuat jiwaku senang. Baking.
  5. Aku juga menilai ulang teman-teman terdekatku. Mana yang membawa pengaruh baik dan mana yang dalam jangka waktu lama akan membawaku kepada jalan yang buruk.
  6. Tapi, hal terpenting adalah, memaafkan diriku sendiri. Karena, semua hal ini ga akan terjadi kalau aku tidak membiarkan diriku terjerat terlalu dalam. Hal ini tidak akan terjadi kalau aku menggunakan logikaku. Ini tahapan yang paling sulit. Menyadari aku begitu bodoh membuang waktu lama menanti seseorang yang dari awal sebenarnya tidak punya niatan serius denganku. Menyadari begitu bodoh untuk melepas prinsipku kepada Jack.

Perlahan, amarahku mulai bisa dikontrol kembali. Tapi aku masih bisa merasakan luapan emosi ketika menceritakan ulang mengenai kejadian Jack. Dan masih muncul rasa pengen nyakar-nyakar muka Jack ketika papasan di kantor.

It took me around 2 years, to fully recover from this broken heart.

How do I know that I have healed?

Ketika aku sudah bisa bercerita ke orang lain sambil ikut menertawakan kebodohan dan kedunguanku ketika berupaya keras mendapatkan Jack. No anger left.

Dan yang terpenting, ketika aku scrolling Instagram istrinya (yes, they end up married to each other), lalu menemukan foto mereka berdua, holding hands, on their honeymoon, my heart felt nothing. Not even a skipped heartbeat.

Lalu, what do I learn from this whole drama?

  1. Listen to your surrounding. Kalau mayoritas uda say NO, nurut aja deh. Karena ketika kita jatuh hati, sepinter-pinternya elu, tetiba jadi bego parah. Ga bisa buat keputusan yang objektif.
  2. Jangan pernah mau nunggu seseorang. You will waste your time. Kalau tidak di jalan atau tujuan yang sama, stop. Cari yang lain.
  3. You wanna win someone heart? Doain aja. Minta sama yang punya hatinya agar hatinya diarahkan ke kita. You think it’s silly? Well, I don’t. Gw uda pernah ngerasain capeknya usaha segala macem, toh akhirnya hatinya ga berlabuh di gw selama ga gw doain. Hati orang tuh gampang dibolak-balik soalnya. Dan yang Maha Membolak-balik hati yang punya kuasa besar. Minta dengan cara yang benar ya.. Inget, bolehnya minta hati orang yang masih single. Bukan minta suami/istri orang.
  4. Yang terakhir, better alone deh dari pada memaksakan dengan orang yang salah. Mending perbaiki diri, sampai nanti tiba di saat yang tepat dipertemukan dengan orang yang sama siapnya dengan kita.

At the end, rasanya perlu berterima kasih kepada Jack, for crossing path with me. You taught me a lot. Terutama pelajaran untuk tidak membiarkan pria-pria iseng untuk berlama-lama singgah di hidupku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s