Journey

Labuan Bajo


DSC06976-01

Pulau Flores ternyata luas sekali. Kali ini aku berkesempatan untuk berkunjung ke bagian wilayah Barat, di area Labuan Bajo. Sedikit cerita, kenapa daerah ini disebut Labuan Bajo? Karena di sini terletak pelabuhan yang menjadi pintu masuknya suku Bajo yang datang dari Makasar.

Trip di Labuan Bajo biasanya terbagi menjadi dua jenis, sailing Komodo (isinya hopping island) atau overland (destinasi wisata di daratan Labuan Bajo saja). Untuk trip kali ini, aku mengkombinasikan keduanya, karena tripnya bareng keluarga, jadi disesuaikan dengan jadwal dan kemampuan fisik anggota keluarga lainnya.

Awalnya berniat 2 hari overland (gua Rangko, gua Batu Cermin, dan cunca Wulang) dan 1 hari hopping island (pulau Padar, pulau Komodo, dan pulau Kanawa). Tapi rencana berubah H-3 keberangkatan. Jadinya, selang seling main di darat dan di lautnya.

Cuaca Flores ketika aku berkunjung kemarin (awal Juli), sedang musim kemarau. Panas dan terik. Sunblock, topi, dan kaca mata hitam menjadi teman yang baik banget selama di sana.

Gua Batu Cermin

Ini adalah tujuan pertama begitu mendarat di Labuan Bajo, karena lokasinya yang tidak begitu jauh dari bandara. Sebenarnya waktu berkunjungnya kurang tepat, karena penerbangan kita delay, dan tiba di Labuan Bajo sudah cukup sore. Sehingga ketika kita tiba di gua Batu Cermin, kondisinya sudah mulai gelap. Sebaiknya ke sini ketika siang hari agar lebih besar kemungkinan menyaksikan cahaya matahari yang masuk dari lubang di dalam gua, lalu memantul balik ke atas yang menjadi asal usul nama dari gua ini.

DSC06981-01

Di dekat area parkir, kita akan menemukan pos untuk membeli tiket masuk, serta disediakan pula guide lokal yang akan membimbing kita di dalam gua.

Jalur menuju pintu masuk gua mudah untuk dilalui, karena sudah disediakan jalur dari bata block.

Nah, begitu masuk ke area mulut gua, akan terlihat tangga-tangga buatan yang lumayan curam dengan jarak antar anak tangga yang cukup tinggi. Untuk menuju ke titik “cahaya memantul” kita harus masuk ke dalam bagian gua yang lebih dalam. Sebelum masuk kita diharuskan menggunakan helm agar kepala terlindungi dari stalaktit yang ada di dalam gua.

DSC06989-01
di awal, jalurnya tangga curam seperti ini

DSC06996-01

20180704_164112-01
ini lubang tempat cahaya matahari masuk ke dalam gua, lalu memantul lagi ke atas
20180704_163957-01
fosil penyu

20180704_163059-01

IMG_3893-01
keluar-keluar ehh ternyata uda keringetan aja, ga berasa

Pulau Kelor

Destinasi yang diputuskan mepet mendekati hari keberangkatan. Di sini kita bisa snorkeling atau liat view dari bagian atas pulau. Untuk naik ke atas, jalur pendakiannya cukup sulit menurutku. Jalurnya lumayan curam dengan bongkahan batu-besar yang ditutupi pasir, membuat jalur ini menjadi licin ketika didaki. Ditambah lagi aku datang di musim kemarau dengan angin yang lumayan sering berhembus. Siap-siap pasirnya berterbangan ke mata kita ketika kita sedang mendaki. Naiknya saja menurutku sudah lumayan usaha. Turunnya? Ya Allah. Aku tidak berani turun dalam posisi berdiri. Selalu posisi duduk, lalu perlahan menurunkan kaki satu per satu ke undakan batu yang ada di bawah. Begitu terus sampai akhirnya aku mendarat dengan selamat di dataran.

DSC07043-01

DSC07044-01
jalur awal penanjakan ke bagian atas pulau
DSC07039-01
barisan orang yang mengantri untuk naik ke atas
DSC07048-01
view from top
DSC07045-01
view from top

Pulau Bidadari

Ini pulau kedua yang didatangi setelah Pulau Kelor. Pasirnya putih dan lembut banget, kayak bedak. Enak deh bentangin kain gitu di bawah pohon sambil duduk-duduk manis menikmati hembusan angin dari lautan.

Untuk snorkeling, walau di pinggiran pulau, tapi variasi ikannya banyak. Biasanyakan mostly deket pulau tuh jenis ikannya yang belang-belang kuning-putih-hitam. Tapi ini ada gerombolan ikan-ikan kecil warna ungu, biru dan turquoise. Cantik banget! Tapi untuk koralnya, menurut gw biasa aja. Dan ini pertama kalinya gw snorkeling pakai kaca mata renang biasa, yang ternyata jauh lebih nyaman, walau harus bolak balik narik napas ke atas permukaan air. Dan pertama kali pula nyoba snorkeling ga pakai pelampung. Bebas gerak banget ternyata. Tapi tetap pake fin dong, biar ga capek berenangnya.

DSC07040-01

DSC07058-01
terlihat merah, segar, dan manis. tapi kenyataannya ndak

Bukit Silvia

Selama di Labuan Bajo, sebenarnya kita ga butuh guide khusus. Asal punya driver yang tau seluk beluk Labuan Bajo, tinggal cus ke tempat yang kita mau. Nah, untungnya dapet driver yang paham, tinggal bilang “pak kita mau sunsetan, bagusnya dimana?” dia langsung merekomendasikan bukit Silvia. Lokasinya memang tinggi dengan view bersih ke lautan, ga ada bangunan apapun.

DSC07095-01

DSC07138-01

Cunca Wulang

Destinasi yang sudah aku rencanakan dari awal. Jaraknya dari kota sekitar satu jam perjalanan dengan mobil. Jalanannya berliuk-liuk dengan sudut-sudut tajam. Perut rasanya berputar-putar minta dikeluarkan isinya. Setelah sejam kita akan tiba di pos untuk bayar tiket masuk dan kembali, disediakan guide lokal yang akan mendampingi kita trekking.

Medan trekkingnya terbagi tiga jenis, jalur tangga semen, jalur tanah, lalu jalur yang penuh dengan tangga alami dari akar-akar pohon.

 

DSC07149-01

 

Untuk lihat air terjunnya, ada 2 cara, kita bisa nyebur di kolam di atas, lalu berenang ke arah air terjun. Atau mendaki lagi di jalanan sempit yang jauh lebih curam (karena di sebelah kanannya langsung jurang). Aku pilih jalur kedua, karena ga prepare baju untuk renang. Tapi, karena datengnya di musim kemarau, debit airnya kecil, jadi air terjunnya ga full bentuknya. Di musim hujan pasti jauh lebih bagus deh.

DSC07156-01

Sebelum kembali ke mobil, kita memutuskan beristirahat dulu sambil melepas dahaga. Ini air kelapanya manis banget. Ga tau deh pengaruh karena haus banget apa gimana. Dan sedotannya dari bambu. Kira-kira sedotannya dicuci ga ya? Hahahaha..

 

Pulau Padar

Tampaknya pulau Padar sekarang menjadi konten wajib (untuk Instagram) selain melihat komodo ketika berkunjung ke Labuan Bajo. Di sini, kita trekking lagi. Tapi jangan sedih, jalurnya uda proper kok, jadi lebih nyaman dan aman untuk di daki.

 

Pulau Komodo

Tujuan utama dari trip ini. Selain di pulau Komodo, kita bisa lihat komodo di pulau Rinca. Namun, posisinya terpisah jauh. Komodo di Utara, Rinca di Selatan. Populasi komodo sendiri lebih banyak di pulau Rinca. Sebelum terbang ke Labuan Bajo, aku cek jadwal haid, dan seharusnya di minggu aku berangkat adalah minggu aku haid. Sedangkan, ada himbauan sebelumnya yang haid tidak bisa turun ke pulau Komodo dikarenakan hidung komodo sensitif dengan bau darah, dan takut memancing mereka menjadi agresif. Alhasil, sebelum berangkat aku mengkonsumsi obat penunda haid. Tapi, ketika sampai di lokasi, ada anggota grup kelompok lain yang nanya “kalo lagi haid gimana?” Lalu rangernya jawab gak apa-apa selama di bawah pengawasan ranger.

Jadi, selama kita trekking di pulau Komodo atau Rinca, kita akan ditemani 1 orang ranger yang bisa handle grup dengan kapasitas maksimal 12 orang. Aku ga tau di Rinca gimana, tapi di Komodo ada 3 pilihan jalur trekking yang bisa diambil, short (40 menit), medium (1,5 jam), atau long (ga denger berapa lama kata rangernya, hahaha). Aku ambil yang short aja kemarin. Perlu diingat, ini konsepnya hutan liar ya, jadi ada chance untuk ga ngeliat komodonya. Apalagi kemarin ketika berkunjung, sedang musim kawin bagi komodo, dan mereka kebanyakan berada di atas pulau untuk kawin.

DSC07313-01

DSC07317-01
di pulau ini banyak banget pohon asam jawa
DSC07323-01
walau terlihat santai, justru di posisi seperti ini kita harus waspada dengan komodo

Pulau Kanawa

DSC07309-01

Spot snorkeling tercantik yang pernah aku rasain. Karangnya bagus, variasi ikannya juga bagus-bagus banget! Sayangnya tidak ada foto pemandangan bawah laut sebagai bukti. But I enjoyed it very much. Ntah kenapa, aku merasa air laut di daerah Labuan Bajo ga begitu asin dan ga begitu nempel di kulit atau rambut. Tau kan rasanya ketika habis main di laut dan badan super nempel bekas asinnya air laut? Susah banget bersihinnya. Tapi ga di sini. Ada yang tau kenapa?

***

Selain tempat-tempat yang aku sebutkan di atas, Labuan Bajo menyimpan banyak destinasi wisata yang menarik yang pengen aku datengin. Masih ada gua Rangko dan desa Wae Rebo yang patut untuk dijelajahi ketika kalian berkunjung ke Labuan Bajo. Juga tampaknya asik menjelajahi Flores Timur, mendaki untuk melihat Danau Kelimutu. Mungkin lain waktu yaa…

 

DSC07014-01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s