Journey

Prau: Dingin yang Memikat


DSC07495-01
view of Slamet, Sumbing, Sindoro

Trip yang impulsif. Baru direncanakan dua minggu sebelum hari H. Untungnya budget liburan tahun ini masih mencukupi untuk ikut trip ini. Trip ini adalah pengalaman camping pertamaku, tapi bukan gunung pertamaku. Dulu sewaktu SMA, sudah pernah kaki ini aku ajak menginjak puncak Sibayak. Namun, tanpa persiapan naik gunung yang mumpuni.

Demi trip ini, aku berusaha menjadi anak gunung yang (agak) prepare. Langsung buru-buru beli carrier, sleeping bag, matras, dan baju hangat untuk mengantisipasi suhu dingin di puncak Prau. Dan niat banget nyari video tutorial di YouTube cara packing dan penggunaan carrier yang baik dan benar agar tidak membebani punggung dan bahu selama mendaki. Baru ini soalnya aku mendaki sambil membawa beban, selain beban berat badan dan kehidupan.

Gunung Prau letaknya di dataran tinggi, Dieng, Jawa Tengah. Sebelumnya aku sudah pernah berkunjung di tahun 2016 untuk mengikuti Dieng Culture Festival. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana dinginnya Dieng. Dan sudah planning untuk tidak mandi selama di Dieng. Lebih baik aku kotor daripada kedinginan *prinsip*.

Perjalanan menuju Dieng kali ini ditempuh lewat jalur darat. Memakan waktu sekitar 14 jam (berangkat jam 10 PM nyampe Dieng sekitar 1 PM). Asli pinggang dan pantatku sakit banget. Ga bakal aku ulangi lagi perjalanan via jalan darat. Mending naik kereta ekonomi trus lanjut pakai bus lokal non AC. Hanya memakan waktu 10 jam aja. Lumaya menghemat waktu 4 jam.

Selesai bersih-bersih dan makan siang, kita mulai pendakian. Jalur untuk mencapai puncak Prau ada dua, melewati jalur Patak Banteng atau jalur Dieng. Jalur Patak Banteng penuh tanjakan tapi bisa ditempuh dengan waktu yang lebih singkat, yaa buat yang uda biasa sih. Niat hati mau fotoin bagaimana kondisi jalurnya. Tapi kenyataannya tenagaku lebih baik dipakai untuk mengatur napas daripada bolak-balik mendokumentasikan kondisi sekitar. Pendakianku melalui Patak Banteng memakan waktu 3 jam. Ada 3 pos yang harus dilalui sebelum kita sampai di puncak. Pendakian sampai pos 2 masih aman ya.

20180714_165935-01

Mulai menuju akhir pos 3, kabutnya mulai turun ditambah dengan terpaan angin. Ada beberapa kali selama pendakian aku tiba-tiba merasa pusing. Aku langsung diam, duduk kalau memungkinkan, dan menarik napas yang panjang membiarkan oksigen masuk dan menyebar lagi ke sel-sel tubuhku. Sampai pusingnya hilang.

Kita baru menyentuh puncak sekitar jam 6 PM dan lokasi camping sudah tertutupi kabut. Tapi dari kejauhan aku bisa lihat cahaya lampu lucu dengan tulisan “welcome” yang menyambut.

DSC07347-01

Dan… dilanjutkan dengan sambutan makanan-makanan seperti di bawah ini.

DSC07352-01
burger
DSC07353-01
salad buah

Tapi sejujurnya dari lubuk hati paling dalam, yang kubutuhkan adalah kehangatan dari satu cup Popmie rasa ayam plus secangkir kopi hitam atau wedang jahe hangat. Dari berbagai menu yang disajikan, aku cuma makan burger aja. Pokoknya aku jaga banget agar porsi makanku kecil guna meminimalisir keingin untuk BAB. Aku sudah denger kisah BAB di gunung dan ga siap kalau harus bawa-bawa sekop untuk bikin galian sendiri.

Setelah mengisi perut, kita diminta untuk ganti baju yang basah karena peluh selama pendakian dan diperbolehkan untuk istirahat sambil menunggu waktu makan malam. Langsung ganti baju, buka sleeping bag, ngedusel. Dinginnya ya Allah. Ketika sudah jam makan malam, rasanya badan ini enggan diajak keluar dari tenda untuk bertegur sapa dengan hembusan angin gunung yang seketika menerbangkan sisa-sisa kehangatan di dalam tenda. Untungnya makan malamnya sesuai dengan yang aku nanti-nanti, semangkuk shabu-shabu hangat. Selesai makan kita berkumpul di dekat tungku untuk menghangatkan diri dan kembali disajikan pizza. Tapi tetap….aku masih membayangkan meneguk segelas wedang jahe lalu merasakan kehangatannya menjalari kerongkongan dan bergerak perlahan ke dalam sistem cernaku… Hangat pasti..

Tapi suhu dingin ini amat sangat terobati dengan canda tawa dan kisah-kisah yang saling dibagikan anggota trip ini.

Ditambah dengan keindahan langit malam yang menjadi pusat perhatianku saat itu. If you know me or stalk me long enough, you must know how much I love the idea of stargazing. Duduk dalam diam, menikmati langit malam penuh bintang. Entah kenapa langit terasa lebih dekat kalau dipandang dari ketinggian seperti ini.

DSC07416-01

Sayangnya angin malam terlalu kencang dan tidak ada tangan yang bisa menghangatkan atau pundak untuk bersender, maka kuputuskan untuk kembali ke tenda untuk beristirahat sambil menunggu fajar terbit.

Tapi jam 3 AM, aku kebangun. Kedinginan. Kayaknya aku lebih butuh kaos kaki heattech, bukan baju atau celana dalam heattech. Kakiku terasa beku sekali. Fix aku tidak bisa melanjutkan tidur lagi sampai pagi.

Sebelum tidur leader grup ngasi tau “nanti dibangunin jam 5 ya buat sunrise-an”. Begitu jam 5, aku langsung keluar tenda. Tapi kok ya sepi….. yang ada hanya deru angin yang masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Buru-burulah aku masuk lagi ke dalam tenda, mencari perlindungan di dalam sleeping bag. Mendekati jam 6, langit mulai terang. Barulah aku memberanikan diri untuk keluar tenda.

DSC07423-01

Ketika keluar tenda dan melihat sekeliling, baru ngeh kalau ternyata di sekitar penuh dengan tenda-tenda dari grup lain.

Anyway, aku sebenar-benarnya lebih sunset hunter daripada sunrise hunter. Pertama, sunrise harus usaha bangun pagi. Aku bisa bangun pagi sih, but if I can have another two hours to sleep, I won’t say no for sure. Kedua, somehow semburat-semburat sunset terasa lebih manis untuk dinikmati sambil menilik ulang hal apa yang terjadi dalam hari kita. Sunrise hari itu bulat sempurna. Tapi sayangnya view Sindoro-Selamet-Sumbing tertutup kabut tebal. Sudah aku tunggu sampai jam 10-an tetap belum rezeki untuk melihat pemandangan ketiga gunung ini.

DSC07443-01

Selesai sarapan, kita langsung packing lagi untuk turun. Sering ga sih, ketika pergi tasnya muat. Tapi begitu packing ulang, loh kok ya ga muat?

Untuk turunnya kita menggunakan jalur Dieng. Jalurnya lebih landai tapi lebih jauh. Tapi kalau dihitung-hitung toh tetap memakan waktu 3 jam juga.

DSC07504-01

Sesampainya di Dieng, perjuangan masih dilanjutkan dengan perjalanan kembali ke Jakarta. Kembali via darat dan memakan waktu 14 jam. Pulang-pulang bagian yang paling berasa capek cuma pantatku. Cuma pantat doang! Lebih pegel duduk di jalan daripada pendakian. But overall, trip ini menjadi penyeimbang setelah minggu sebelumnya bercumbu dengan terik di Flores.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s