Journey · Life

Merantau


merantau

Is it only me, or this year gone really fast? It felt like only yesterday I had my birthday early in January but now we’re in August? FYI, this August remarks my fifth year of living in Jakarta. Who knew I’d be staying this long here in this concrete jungle of Indonesia, alone.

So, let me tell you something about this whole “merantau” thing.

Semua bermula dengan pemikiran bahwa hidup di Jakarta terlihat megah dan menarik di benakku. Dari kecil, aku selalu hidup dekat dengan orang tua. Di saat teman-teman seusia mulai melangkahkan kaki keluar dari Medan menuju ke kota lain di Jawa, bahkan ada yang berpindah negara, aku tetap berada di Medan. Memantau kehidupan mereka dari social media. Dan membayangkan diriku sendiri merasakan petualangan dan kebebasan yang mereka punya.

Sampai akhirnya ketika aku menyelesaikan pendidikan sarjanaku, there was something happened within me yang membuat aku berpikir dan berniat keras untuk hidup jauh dari keluargaku. Jelas ada drama ketika aku mencetuskan ide untuk mencari kerja di Jakarta. I know my parents are very protective, especially to me. And (now) I know how hard it is for them to let me go. But I need to do it. I have to move out for my own good.

So, in August 2013, I officially moved to Jakarta and started my career here as Talent Acquisition in multinational company.

Seperti layaknya anak ayam yang keluar kandang setelah dikurung dalam waktu lama, aku sempat mengalami periode di mana aku menikmati melakukan segala hal yang selama ini tidak bisa aku lakukan ketika aku masih tinggal bersama orang tuaku. I can do anything that I want here. Anything. Even the worst thing. But than again, that period of time has ended after the heart broken episode that I’ve shared with you in several post before.

Setelah itu, aku menjadi lebih realistis menjalani hidupku di Jakarta. Mana hal yang memang cocok untukku dan masa depanku. Dan mana hal-hal buruk yang harus aku beri jarak agar tidak bersentuhan dengan hidupku.

So here’s what I learned and what I miss this far:

  1. Manage my financial. Aku termasuk boros, terutama kalau uda urusan makan. Di awal kepindahan ke Jakarta, aku dapat digolongkan ke kaum hedon, yang tiap minggu kerjanya cafe hopping menikmati makanan yang kadang harga tax-nya sendiri bisa dijajanin untuk makan siang di pecel lele pinggir jalan. Sampai akhirnya aku memutuskan mencatat cashflow-ku per bulan. Diikuti dengan membuat forecast per tahun. Menghitung berapa banyak yang bisa ditabung, berapa pengeluaran rutin tiap bulan, dan berapa sisa uang yang bisa aku pakai untuk foya-foya.
  2. Prepare planned meal. Untuk lebih menghemat pengeluaran, aku memutuskan untuk masak sendiri makananku. I know I won’t be like my mother who always cook everyday. Nope. I don’t have time for that. Biasanya aku masak untuk porsi tiga kali makan, lalu aku bagi dalam wadah-wadah. Simpan di kulkas. Terus tinggal dipanasain kalau mau makan. The thing is, biasanya sehabis makan porsi yang pertama, aku uda bosen untuk makan yang kedua dan ketiga. Jadi, akhirnya jajan di kantin kantor juga. Yaa…
  3. Cleaning. This include cleaning the whole apartment, doing laundry, wash dishes. Thanks to my mom, who ALWAYS taught me and my brother to clean up our home, alone, this is just a piece of cake (sombong). Tapi yang cukup sulit adalah mengatur kapan jadwal untuk bersih-bersihnya. Dulu waktu di rumah, mama sering banget ngomel kalau barang berserakan. Now, I know why. Tidy place always brings peace in your mind. I always have a good feeling after cleaning. Karena leha-leha di tempat yang rapih lebih nikmat dari pada leha-leha di tempat yang berantakan.
  4. Transportation. Ini yang biasanya menjadi pembeda terbesar antara hidupku di Jakarta dan di Medan. Di sini I go everywhere with public transport. Di Medan? Langsung berubah jadi tuan putri yang mager kemana-mana kalo ga nyetir atau disetirin.
  5. Empathy. Kalau kalian mau cari contoh orang yang heartless, aku mungkin bisa dijadikan contoh. Aku cukup sulit terharu atau memahami kondisi orang lain. Bahkan, kadang ketika menonton film, di bagian tertentu ada yang meninggal dan teman-temanku nangis, aku cuma diem. Don’t feel anything. But somehow, lately, I found my self lebih bisa memahami kondisi dan perasaan orang lain. Belum sepenuhnya I know. Tapi aku merasa this is far better than the old me.
  6. Power of control. I also learned that in this life, there are SO MANY things that out of our control. The only thing that we can control is only our reaction to those things. This is another thing that I am still learning tho.
  7. Grateful. Selama tinggal di Medan, aku merasa hidupku biasa-biasa saja. I still look up comparing my life to my friends who I thought live better life than me. But here, where I have different point of life as a comparison, I actually have MORE than enough.
  8. Durian. I miss you so much, you know? Arrrrghhhhh…. Another thing that I miss is the access to variation of fruits just from our backyard in Medan. We have mangoes, bananas, rambutans, jackfruit, papayas. Here? I need to buy them. That’s why I want to have house with huge backyard. So, I can grow some fruits on it.

The point is, this whole merantau has turned me into the woman that I am today. And never once I regret my choice to did it.

Do I wanna go back to my hometown? Until now, the answer still, no. But who knows..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s