Journey

Sumba


Tahun ini sesungguhnya tidak merencanakan untuk berkunjung ke daerah Timur Indonesia sampai dua kali. Setelah sebelumnya mencicipi sebagian kecil tanah Flores, tepatnya di Labuan Bajo, awal September ini kaki kulangkahkan menuju Sumba.

Untuk menuju Sumba sejauh ini belum ada penerbangan langsung. Pilihannya, bisa transit dahulu di Denpasar atau di Kupang. Karena trip ini aku mulai di Barat dan berakhir di Timur, maka rute yang aku ambil Jakarta – Denpasar – Tambolaka dan pulang dengan rute Waingapu – Kupang – Jakarta (pilihan rute pulang lebih disebabkan harga tiket yang lebih bersahabat dibandingkan harus transit di Denpasar kembali).

Satu hal terasa berbeda antara Sumba wilayah Barat dan Timur adalah kesejahteraan masyarakatnya. Masih banyak sekali sisi Sumba Barat yang masih bisa dikembangkan. Masyarakat di Sumba Barat masih banyak yang harus beli air bersih untuk kebutuhan air mereka. Melihat langsung kondisi ini membuatku memahami mengapa masyarakat di bagian Indonesia Timur sering berkoar-koar dengan ketidakadilan pengembangan infrastruktur yang cenderung dilakukan di wilayah barat Indonesia. Melihat mereka, aku dalam hati bersyukur dengan segala hal yang aku punya. Aku punya lebih dari cukup dibandingkan dengan kondisi mereka. Dan yang terkadang membuat hatiku terenyuh adalah bagaimana mereka terlihat bahagia dengan segala kesederhanaan yang mereka miliki. Kadang memang ketika memiliki terlalu banyak, kita lupa dengan hal-hal kecil yang sebenarnya sudah cukup untuk membuat kita bahagia.

Day 1

Pantai Bwanna

Tujuan pertama jatuh ke pantai ini. Untuk menuju pantainya, track yang harus dilalui cukup terjal. Tapi ketika menginjakkan kaki ke pantainya, ya Allah… PASIRNYA LEMBUT BANGET!

DSC07988-01
Sisi kiri pantai
DSC07990-01
Sisi kanan pantai, aku suka dengan nuansa kabut tipis yang disebabkan percikan ombak yang diterbangkan angin.

DSC08047-01

DSC07995-01

Di sini banyak banget bocah-bocah dari yang masih usia 5 tahun sampai remaja, yang rebutan untuk jadi guide. Pastikan sebelum turun pakai berapa guide, agar menghindari percekcokan ketika nanti akan memberi uang tips

DSC08045-01

DSC08052-01

Desa Adat Ratenggaro

DSC08089-01
Rumah adat di Sumba punya ciri khas atap tinggi seperti ini

DSC08084-01

Kuburan masyarakat Sumba terbuat dari tumpukan batu seperti ini. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal, mayatnya akan dibalur dengan ramuan yang berguna untuk menutupi bau. Sehingga ketika dimasukkan ke dalam kuburan batu ini, tidak ada aroma busuk yang keluar. Kuburan ini bisa untuk beberapa anggota keluarga. Kalau ada anggota keluarga yang meninggal kembali, kuburnya bisa dibuka kembali.

DSC08092-01
Kain tenun Sumba

DSC08120-01

DSC08105-01

DSC08112-01

Pantai Ratenggaro

DSC08133-01

Sunset di hari pertama dinikmati di pantai ini karena letaknya yang berdekatan dengan desa adat Ratenggaro.

Day 2

Danau Weekuri

DSC08183-01

DSC08172-01

Danau Weekuri ini adalah lokasi wisata wajib ketika berkunjung ke Sumba. Sebenarnya ini bukan danau, tapi laguna. Letaknya berbatasan langsung dengan laut dalam. Namun, dikelilingi oleh karang-karang tajam. Air laut tadi kemudian masuk ke dalam celah-celah karang hingga terbentuk laguna ini. Gradasi warna airnya cantik banget. Membuat aku tidak sabar ingin cepat-cepat nyemplung.

Asiknya di sini, kita bisa mengapung tanpa usaha, tanpa menggunakan ban. Kadar garamnya sepertinya cukup tinggi sehingga badan kita mudah mengapung. Fix aku belang kelar dari sini. Salah sendiri juga sih ga pakai sunscreen.

Pantai Mandorak

Pantai ini letaknya berdekatan dengan Danau Weekuri. Duduk sambil memandangi ombak besar yang silih berganti memasuki celah dua karang ini memberi rasa menyeramkan namun menenangkan. Bingung ga?

DSC08210-01

Air Terjun Lapopu

Jalur menuju air terjun ini menurutku tidak terlalu sulit dan jauh. Cukup dengan menyusuri pinggir sungai dan menempuh kurang lebih 10 menit, kita sudah sampai di lokasi utama air terjun ini.

Air terjun Lapopu berada di kawasan Taman Nasional Marupeu Tana Daru. Bentuk air terjunnya bertingkat-tingkat. Katanya ketinggian totalnya mencapai 92 m.

Baru kali ini aku berani untuk berenang menuju sumber air terjun (tingkat paling bawah) dan menikmati langsung deburan keras air yang memijat pelan pundak dan punggungku. Warna air sungai di sekitar tingkat paling bawah berwarna hijau toska. Katanya diakibatkan kandungan kapur yang ada di airnya dan dipantulkan ke mata membentuk warna hijau cantik tadi.

Walaupun bisa berenang di sini, harus tetap hati-hati ya ketika berenang di sini. Karena batu-batunya licin dan tidak terlihat dengan jelas dasar sungainya.

DSC08211-01

DSC08215-01
DSC08219-01

Day 3

Puru Kambera

Salah satu tempat yang menjadi primadona juga di Sumba. Savana Puru Kambera. Tapi sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, karena rumput-rumput di savananya terlihat botak. Namun, hal baiknya adalah karena berkunjung di Bulan September, aku punya kesempatan untuk melihat sakura Sumba di perjalanan menuju Puru Kambera.

DSC08294-01

DSC08159-01

Jalanan di Sumba super sunyi. Bisa dipastikan mobil yang berseliweran isinya juga turis yang sedang menuju atau baru kembali dari lokasi wisata yang sama.

DSC08163-01

Air Terjun Waimarang

Ini adalah lokasi wisata favoritku dari semua tempat di Sumba.

Berbeda dengan Lapopu, rute yang harus ditempuh untuk menuju air terjun Waimarang cukup jauh dan memakan waktu sekitar 20 menit. Dimulai dengan menuruni bukit, sampai menuruni track yang lebih terjal. Dan sesampainya di bawah. Pemandangan ini menyambut. Datanglah di waktu pagi hari, sekitar pukul 9 atau 10 WITA. Karena cahaya matahari sedang cantik-cantik menyeruak dari celah ceruk air terjun, membiaskan warna toska yang super cantik. Tapi di sini renangnya harus pakai usaha yaa… Airnya lumayan dalam.

1536405985831-01

Pantai Walakiri

Hari ini ditutup dengan sunset di pantai Walakiri. Jadi, di Sumba ini banyak tempat yang terlihat wow di foto tapi aslinya sebenarnya ya B aja. Pantai ini termasuk salah satunya. Tapi, harus aku akui, ketika sunset, kita bisa dapat view matahari yang tenggelam perlahan tanpa ada gangguan. Gangguannya yaa para turis lain yang berebut untuk berfoto bersama nuansa senja tadi.

DSC08357-01

DSC08365-01

Day 4

Bukit Wairinding

Hari terakhir di Sumba ditutup dengan berkunjung ke lokasi wajib lainnya di Sumba. Bukit Wairinding. Pasti uda banyak banget ya yang baca caption foto di lokasi ini yang bunyinya “bukit Wairinding bikin merinding”. Sebenarnya yang buat merinding adalah anginnya. Aku datang di waktu sunrise. Dan angin pagi tanpa segan menderu dari segala penjuru. Keindahan bukit ini paling terpancar di kala pagi atau sunset. Warna emas cahaya matahari berpadu manis dengan warna coklat atau hijau bukit (tergantung waktu berkunjung ke Sumba).

1536453737127-01

Dengan ini berakhirlah kisah kunjunganku ke Sumba. Mari kita tutup dengan yang mau lewat di bawah ini.

DSC08094-01
Misi… numpang lewat neng..
DSC08423-01
Sampai jumpa lagi, Sumba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s