Journey

Yogyakarta


Aku sudah berniat ingin mengunjungi Yogyakarta kembali setelah menonton Ada Apa Dengan Cinta 2 tahun 2016 lalu. Sepulang dari Jepang di tahun 2017, aku sudah menyusun jadwal untuk berangkat ke Yogyakarta di bulan Oktober 2017. Namun, rencana tersebut gagal dan aku akhirnya bertolak menuju Semarang. Rencana selanjutnya untuk mengunjungi Yogyakarta adalah April 2018. Namun, kembali rencana hanyalah sebatas rencana, sedangkan kakiku kulangkahkan menuju kota favoritku, Bandung. Rencana ketiga adalah Maret 2019. Dan akhirnya, kali ini rencana ini bisa aku eksekusi bersama dua temanku.

Aku menaruh ekspektasi yang cukup tinggi terhadap Yogyakarta. Dari kunjungan pertamaku ke Yogyakarta pada tahun 2002, tidak banyak memori yang membekas jelas. Aku hanya ingat gigitan tempe bacem di Museum Ullen Sentalu yang terasa berbeda karena menggunakan gula aren, bukan gula pasir biasa dalam proses masaknya (dan terlalu manis menurut lidahku). Aku juga ingat teriknya Borobudur ketika aku berkunjung ke sana. Sudah. Hanya itu.

Lalu, setelah Ada Apa Dengan Cinta 2, rasanya tergeletik untuk merasakan sensasi Yogyakarta yang digambarkan manis, tenang, dan sejuk.

Tapi, ternyata, setelah menghabiskan tiga hari di Yogyakarta, kota ini terasa… biasa saja.

Di hari pertama aku tiba, sempat aku berpikir,”Wahh, Yogyakarta bisa menggantikan Bandung di hatiku tampaknya”. Karena hari pertama mendung, sejuk, dan terasa tenteram. Tapi itu hanya di hari pertama. Hari kedua langsung kuhapus pikiranku untuk menggusur Bandung sebagai kota favoritku.

Salah satu hal yang aku suka dari Yogyakarta adalah situs candinya, tapi kembali lagi, karena aku kurang menyukai lokasi wisata yang penuh keramaian, candi favoritku jatuh ke Candi Ijo. Dinamakan Candi Ijo karena letaknya di perbukitan hijau (pada masa dahulu tentunya). Candi ini juga menjadi candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta. Aku juga baru tau kalau lokasi untuk membangun candi itu harus dipilih tempat yang baik, yang subur. Jalan akses menuju candi Ijo lumayan menanjak dan melewati jalur yang sama untuk menuju Tebing Breksi. Kita hanya perlu berjalan lebih jauh ke atas untuk sampai ke candi ini.

DSC09479-01DSC09466-01DSC09467-01

Candi berikutnya yang aku kunjungi adalah Candi Ratu Boko, terinspirasi dari moment sunset Rangga-Cinta yang tampak manis. Tetapi, dikarenakan seharian mendung, tentu saja tidak ada rona senja di langit hari itu.

DSC09528-01

DSC09527-01

Selanjutnya, tentu tidak lengkap ke Yogyakarta tanpa berkunjung ke Candi Borodubur. Awalnya berniat untuk sunrise di Borobudur. Tapi, niat hanyalah niat. Akhirnya baru tiba di Borobudur sekitar jam 10. Dan panas terik matahari langsung menusuk di kepala. Peluh juga langsung mengucur ketika menaiki undakan tangga menuju bagian atas candi.

DSC09828-01DSC09838-01DSC09840-01

Sekarang mari bahas makanannya. Makanan di Yogyakarta, tidak banyak menggelitik indra perasaku. Aku sempat mencicipi gudeg, soto Kadipiro, menu di Jejamuran, nasi pecel, bakmi Jawa, wedang ronde, dan gelato. Aku tidak sempat mencicipi sate Klathak serta berbagai variasi bubur di pincuk yang biasanya terdiri dari bubur sumsum, candil, ketan hitam dan cenil. Ahhh, masih ingin rasanya mencicipi manis dan kenyalnya cenil sambil menikmati suasana riuh pasar di Yogyakarta di pagi hari. Menu yang berkesan bagiku hanya Bakmi Jawa Mbah Hadi dan Tempo Gelato.

DSC09885-01
Beragam variasi rasa di Tempo Gelato

DSC09886-01

Sebenarnya Gelato bisa ditemui di kota mana pun ya. Ntah bagaimana kisahnya, tapi Tempo Gelato menjadi salah satu yang harus dicicipi ketika berkunjung ke Yogyakarta. Lokasi utamanya tentu saja di Jalan Prawirotaman. Namun, bisa juga mencicipi gelato ini di dua lokasi lainnya, baik di jalan Taman Siswa atau di jalan Kaliurang. Aku berkunjung pertama kali di gerai Prawirotaman dan mencoba perpaduan Spicy Choco dengan Lemon Ginger. Lemon Ginger sorbetnya enak banget! Rasanya mirip seperti minum wedang jahe, tapi dingin dan segar, namun tetap terasa hangat di tenggorokan. Ajaib!

Kali kedua, aku mencoba di gerai Taman Siswa yang lebih luas, dan memiliki pilihan rasa yang lebih banyak. Bingung harus pilih yang mana. Akhirnya aku mencoba Praline, Kemangi, dan Salted Caramel. Pertama kali mencicipi Kemangi, rasanya sama persis seperti makan pecel ayam pakai lalapan kemangi. Persis sama. Dan cukup membuatku mengernyitkan wajah di awal. Namun, toh akhirnya habis juga dengan kombinasi rasa manis dan creamy dari Salted Caramel dan Praline. Nikmat!

DSC09813-01
Lemon Ginger, Spicy Choco (from top to bottom)
DSC09887-01
Praline, Kemangi, Salted Caramel (from left to right)

Hal lain yang menarik adalah Klinik Kopi (but sorry, no footage for this place, my bad). Kembali, tertarik karena Rangga-Cinta mencicipi kopi di sini. Aku tiba di Klinik Kopi 19.55, lima menit sebelum mereka tutup.

Konsepnya unik menurutku, karena kita ngopi di rumahnya mas Pepeng sebenarnya. Jadi, ketika masuk, kita akan diberi nomor urut, lalu menunggu di teras rumah sembari menunggu nomor kita dipanggil. Begitu nomor kita dipanggil, mas Pepeng akan menanyakan nama kita, basa-basi sedikit datang dari mana, lalu menanyakan biasanya suka kopi yang strong atau yang bagaimana?

Sebagai pecinta kopi mediocre, yang tidak bisa mencicipi taste coklat atau taste madu yang ada di masing-masing kopi, tempat ini asik sih. Mas Pepeng nanti akan memberi rekomendasi jenis kopi yang cocok dengan selera kita. Biji kopi lalu dimasukkan ke dalam grinder. Setelah halus, mas Pepeng akan menyodorkan cup berisi kopi yang sudah digrind untuk kita baui. Kopi yang aku pilih aromanya mengingatkan pada masa kecilku ketika pagi hari sebelum sekolah, nenekku menyeduh kopi untuk dirinya sendiri (di keluargaku pecinta kopi hanyalah nenek seorang). Aromanya persis sama.

Kemudian kopi diseduh dengan teknik V60. Rasanya…… aku bingung harus mendeskripsikan rasa kopi seperti apa. Yang pasti, malam itu selain menghabiskan cangkir kopiku, aku juga meneguk setengah cangkir kopi milik temanku yang sebenarnya tidak suka kopi, tapi kupaksa saja untuk ikut mencicipi kopi. Alhasil, malam itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Berikutnya, yang aku suka dari perjalanan ke Yogyakarta kemarin adalah sensasi menyetir ke daerah Gunung Kidul untuk berkunjung ke dua pantai yang ada di daerah ini. Menyetir sendiri ketika bepergian ke kota lain ternyata memberi rasa belonging ke daerah yang kita datangi. Aku tidak merasa sebagai turis ketika aku menyetir sendiri di Yogyakarta. Jalanannya yang berkelok-kelok dan naik turun cukup mengasyikkan untuk dilalui sambil bernyanyi non-stop dari playlist Spotify favoritku.

DSC09648-01

Sekumpulan bocah yang bermain di Pantai Sepanjang

DSC09695-01

DSC09714-01
Pantai Sadranan

DSC09744-01DSC09742-01DSC09707-01DSC09713-01

Will I come back? Maybe.. but not in the near future. 

Now, I need dose of Bandung, I miss the ambience of the city..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s