Journey

Papandayan


Keinginan untuk menjajal Papandayan sudah muncul dari kali pertama aku membaca postingan Mira. Pemandangan pagi di hutan mati beserta lapangan luas yang dipenuhi bunga edelweis tampak cantik apabila bisa kurasakan langsung.

Butuh waktu 5 tahun untuk mewujudkan keinginan itu. Akhir Maret kemarin aku ikut open trip menuju Papandayan. Perjalanan dimulai jam 1 dini hari di hari Sabtu melalui jalur darat. Walau sudah memulai perjalan selarut itu, namun tol Cikampek masih saja padat merayap. Kami tiba di Cisurupan sekitar jam 9 pagi yang kami gunakan untuk meluruskan kaki dan mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Camp David, yang akan menjadi titik awal pendakian.

Sesampainya di Camp David, kabut mulai turun diikuti dengan rintik-rintik kecil hujan. Aku sudah was-was harus mendaki dalam kondisi hujan. Repot pasti pikirku. Dan benar saja, hujan malah makin membesar, sehingga kami harus menunggu hujan agak reda dahulu.

Setelah agak mereda, akhirnya perjalanan dimulai. Carrier sudah ditutupi rain cover dan semua orang sudah melapisi dirinya dengan jas hujan. Baru mendaki sebentar, tiba-tiba terik langsung muncul. Wahh, cuaca di gunung penuh ketidakpastian memang. Ya sudah, jas hujan kembali dimasukkan ke kompartemen carrier yang mudah untuk dijangkau, seandainya nanti hujan memunculkan diri kembali.

By the way, benar adanya kalau Papandayan adalah gunung yang aman untuk newbie. Jalurnya landai dan pendek. Serta sudah banyak tangga-tangga buatan yang lebih memudahkan proses pendakian. Berbeda jauh dengan jalur Prau. Aku ingat ketika menanjak di Prau kemarin aku beberapa kali berasa pusing ketika mendaki. Tapi tidak terasa apa-apa ketika di Papandayan kemarin. Jadi, kalau kalian ingin mencoba mendaki gunung, cobalah berkunjung ke Papandayan dahulu.

Selama perjalanan tercium aroma belerang yang cukup tajam. Wajar saja, karena memang lokasi pendakian berdekatan dengan kawah belerang aktif. Disarankan menggunakan masker untuk meminimalisir aroma tersebut.

Menariknya di Papandayan, selain jalurnya yang landai, kita juga dimanjakan dengan toilet proper di beberapa titik pendakian. Surga banget ga sih? Walau tetap harus hati-hati siapa tau ada “jackpot” di dalam toiletnya. Selain toilet, hal menarik lainnya adalah, ada warung teman-temanku sekalian, yang letaknya ada di pos 2 serta di Pondok Saladah, tempat kami bermalam nantinya. Haus? Kehabisan air? Kehabisan cemilan? Tinggal jajan aja. Praktis!

Perjalanan menuju Pondok Saladah memakan waktu tempuh sekitar 2 jam. Sesampainya di atas, agak bingung, karena suasananya sama sekali tidak seperti di atas gunung, tapi lebih mirip desa kecil yang berlokasi di atas gunung. Ada musholla, toilet, warung yang menjual cilok, bakso cuangki, bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, popmie, semangkuk indomie rebus dengan telur. Gila, surga banget Papandayan!

Lokasi kemah kami juga dikelilingi oleh tebing hijau yang meminimalisir angin yang berhembus. Ditambah lagi aku berkunjung ketika musim hujan, jadi suhunya tidak sedingin ketika aku berkunjung ke Prau kemarin. Aku hanya menggunakan baju dalam extra warm heattech Uniqlo dilapis dengan sweater heattech dari brand yang sama, dan aku sudah merasa cukup terlindungi dari suhu dingin malam kala itu.

Makan malam: soto. Enak banget ini!
sulit sekali mengambil gambar langit malam di Papandayan. Polusi cahayanya lumayan banyak untuk ukuran gunung, ditambah banyaknya awan berseliweran.

Ketika tiba waktu tidur, aku melapisi kakiku dengan 2 lapis kaos kaki heattech kembali, mengingat kakiku mati rasa ketika di Prau dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Awalnya aku berpikir, “Ampuh nih kaos kakinya”. Tapi ternyata, jam 3 pagi, kembali aku terbangun, kedinginan. Terbangun dari tidur, aku mencoba untuk keluar tenda, karena katanya inilah saat-saat tercantik untuk memandangi milky way. Berbekal jaket dan sarung tangan, aku pun memberanikan diri untuk keluar. Tapi hanya bertahan sekitar 15 menit. Selanjutnya aku masuk lagi ke dalam kehangatan sleeping bad di dalam tenda. Tak lupa sebelumnya aku membalur kayu putih yang banyak di telapak kakiku sebelum kulapisi kembali dengan kaos kaki. Setelahnya justru aku baru bisa tertidur pulas sampai subuh.

Pohon edelweis yang belum mekar tertutupi kabut pagi
Kalau dilihat lebih dekat, di bagian pucuk setiap tangkai daun itu adalah sarang laba-laba

Begitu bangun, kami diajak untuk menikmati sunrise di area hutan mati. Lebih tepatnya sunrise yang telat sih. Matahari sudah bersinar cukup tinggi ketika kami tiba di hutan mati. Namun, kembali, tidak berapa lama, kabut mulai menutupi kembali.

Edelweis. Sayangnya masih banyak yang belum bermekaran. Edelweis ini ternyata ada aromanya. Wangi.
Sarapan pagi: salad buah
Sarapan pagi: bakso

Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur yang berbeda dari jalur awal pendakian. Dan hanya memakan waktu 1 jam saja! Walau waktu tempuhnya sebentar dan medan yang tidak terlalu sulit, tapi otot kakiku cukup terasa bergetar ketika beristirahat sejenak. Overall, Papandayan mengasyikkan karena berasa menginap di gunung dengan bintang lima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s