Reminiscence of Japan (part 3 – finale)

Tokyo

Sejujurnya ga ada tempat spesifik di Tokyo yang benar-benar memorable menurutku. Tapi aku suka Tokyo, kota megapolitan dengan berjuta hal yang bisa kita lakukan, mulai dari beragam kafe unik, spot-spot belanja barang branded yang lebih bersahabat dengan kantong, berbagai makanan otentik khas Jepang, taman-taman luas yang pas banget didatengin di musim semi, dan ga ketinggalan beberapa kuil yang terperangkap cantik di tengah hiruk pikuk Tokyo.

Aku ingat setiap aku berhasil sampai dengan selamat dari satu tempat ke tempat lain (karena ini pengalaman solo travelling pertamaku), I feel super proud with my self. Oke, mungkin lebay. Tapi menyenangkan ketika berada di kota asing, dan kita berhasil mencapai tujuan tanpa tersesat. Bagiku itu achievement tersendiri dalam trip ini.

Selama di Tokyo, bisa dibilang itineraryku kacau. Pertama, karena drama ditinggal pesawat dari Taiwan, jadinya waktu kedatanganku di Jepang jadi mundur, yang harusnya Jumat malam, jadi Sabtu sore. Habis lebih dari setengah hari. Banyak spot-spot yang akhirnya aku cancel mengingat jarak yang terlalu jauh, seperti Odaiba dan Fujiko F. Fujio museum.

20170401_210300-01

Lagi trend di Jepang katanya, bisa nyewa kostum Mario begini sambil muter-muter kota

20170402_130300-0120170425_162859-0120170425_162939-0120170425_163016-01

1492477665118-01

Asakusa

DSC02693-01

DSC02730-01

Shinjuku Gyoen

DSC02760-01

Yoyogi Park

DSC02779-01

DSC02781-01

Shinto traditional wedding

DSC02836-01DSC02839-01DSC02849-01

20170403_143656-01.jpeg

DSC02861-01

Mount Fuji from Kawaguchiko

DSC02915-01

This reminds me with Daisy from Marc Jacobs

DSC02922-01

Hachiko Statue

DSC02924-01

Shibuya Crossing

1490196458348[1]

Shibuya – Source: Martin

1492142565876-01

DSC03446-01

Ueno Park

National Museum of Nature and Science

National museum of nature and science ini sebenarnya berada di dalam satu komplek dari Tokyo National Museum. Lokasinya dekat dengan Ueno Park. Ngotot banget pengen ke museum, gegayaan. Ada dua yang aku masukin, Tokyo National Museum dan National Museum of Nature and Science ini. Dan bener, aku cuma skimming doang di dalam Tokyo National Museum. Tapi, begitu masuk ke National Museum of Nature & Science ini, sisi kanak-kanakku langsung muncul.

Aku selalu iri kalau ngeliat postingan blog atau vlog bocah-bocah di luar yang selalu ada kunjungan wisata ke museum yang ada sususan kerangka dinosaurus gede banget. Dan akhirnya, di usiaku yang jauh dari usia bocah, bisa ngeliat langsung. Aku bisa menghabiskan waktu lumayan lama di sini, karena banyak banget yang harus diliatin satu-satu. But, again, harus ngejar destinasi lainnya, jadi aku hanya ambil foto sebanyak-banyaknya untuk aku nikmati sesudahnya.

Nakameguro river

Another river with cherry blossom in each side that made beautiful pinkish tunnel. Dan ini panjang banget, dari Nakameguro sampai Meguro pemandangannya bakal begini terus. Dan… ga lupa dong, jajanan di pinggir jalannya yang ga kalah buat kalap.

1491617375452-01

Source: Martin

DSC03480-011492477557215[1]

Good accompany

Harus aku akui, senikmat apapun solo traveling, rasanya tetap lebih nikmat kalau ada orang yang bisa diajak berbicara dan tertawa selama perjalanan.

Dua orang ini menjadi penyelamatku banget selama aku di Tokyo, dan Osaka Kyoto juga walau hanya memberi arahan via Line. Aku cukup bilang mau makan ini, makan itu, beli ini beli itu, mau ke sana ke situ, mereka yang akan nentuin harus naik line apa, turun di mana, mereka yang akan pesenin makanan (in Japanese pastinya), mastiin makannya ga ada porknya, and else. Two personal guides that being very helpful.

DSC03531-01

IMG_0740-01

M: Bang, ada Aqua bang? G: Adanya Calpico bang, mau?

Yokohama

Ini mungkin tempat terfavorit selama di Jepang.

I can imagine my self sit on a bench near the harbor enjoying the breeze on my face while my head wandering about life and wait for the sunset and listen to my favorite playlist. Kotanya jauh lebih santai dibandingkan Tokyo yang super hectic. Tipe kota yang aku pilih untuk menghabiskan hari tuaku (well, I much more choose suburban location that totally out of the hustle bustle of big city).

20170425_162810-01

Becak khas Yokohama kayaknya

20170425_163056-0120170425_163337-0120170425_163302-0120170425_163240-01

1489936160523

Source: Martin

Jadi, selesai sudah rangkuman perjalanan selama di Jepang kemarin. Puas banget bisa menghabiskan waktu mengunjungi negara yang sudah ada di dalam list ku sejak lama. Dan lebih puas karena biaya perjalanan ini pure aku tanggung sendiri dari hasil gaji buruhku. Enak ya punya duit ternyata (apa sih).

Selanjutnya, nabung ke mana lagi yaa?

Reminiscence of Japan (part 2)

Kyoto

Selama di Kyoto, transportasi yang lebih sering digunakan adalah city bus nya. Ga perlu bingung harus naik bus nomor berapa. Cukup masuk ke Google Maps, tentukan tujuan kita, nanti akan keluar informasi nomor bus yang bisa kita naikin dan waktu jam kedatangannya. Nah, sebaiknya beli one day bus pass aja. Harganya hanya 500 yen saja, atau untuk yang punya Kansai Thru Pass, malah free untuk naik semua city busnya. Cara kayak begini akan lebih hemat daripada harus bayar setiap naik, karena rata-rata per tujuan akan dikenakan biaya 230 yen.

Banyak banget yang bisa dilihat di Kyoto, tapi secara personal, aku suka tempat-tempat yang punya zen garden dan wisatawannya tidak terlalu ramai. Lebih bisa menikmati suasana tempatnya dengan syahdu. Aku menghabiskan 2 hari untuk berkeliling di Kyoto, dan cuaca dikedua hari tersebut mendung-mendung manja yang terkadang diikuti gerimis kecil. Cuaca yang menurutku pas sekali untuk menikmati Kyoto.

Kiyumizudera Temple

Banyak artikel yang aku baca mengharuskan datang ke Kiyomizudera temple. Sayangnya, temple ini juga lagi underconstruction. Ditambah ketika aku datang, sakuranya juga belum bermekaran sempurna. Jadi kesan yang aku dapat dari temple ini, biasa aja. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Kyoto. Biaya masuknya sebesar 400 yen.

DSC03112-01.jpeg

Kyoto from Kiyomizudera Temple

20170406_110949-01

DSC03107-01

Di setiap temple biasanya adaberagam bentuk ramalan, kayak di atas ini

DSC03091-01.jpegDSC03116-01

DSC03117-01

Batu di atas, sebenarnya ada pasangannya di arah seberang. Katanya, kalau kita berjalan sambil tutup mata dari batu ini menuju batu yang satunya, maka jalan untuk menemukan jodoh kita akan dimudahkan. Nope, aku ga cobain.

DSC03120-01

Rute menuju Kiyomizudera juga akan memanjakan mata kita dengan beragam toko yang menjual berbagai pernak-pernik atau makanan kecil. Tiati duitnya abis ya di sini.

 

Kodaiji Temple

Kodaiji temple mungkin bukan tujuan utama untuk turis dari Asia ya, jadinya sepi, whichis good. Lokasinya di distrik Higashiyama. Sedangkan untuk biaya masuknya sebesar 600 yen.

DSC03141-01DSC03146-01DSC03150-01DSC03152-01DSC03155-01DSC03158-01DSC03175-01DSC03179-01

Ginkakuji

Disebut juga Silver Pavilion, dan bentuknya memang menyerupai bentuk Kinkakuji (Golden Pavilion). Nah, menuju Ginkakuji, kita pasti akan melewati Philosopher’s Path. Ini agak lucu sih, karena ketika sampai di sana, malah aku ga sadar kalau aku sedang berjalan di Philosopher’s Path. Beruntung sakura yang ada di pinggir sungai kecil lagi mekar, membentuk tunnel kecil cantik.

DSC03203-01.jpeg

Pas sampai di Ginkakuji, sempat bertanya, yang dilapisi silver yang mana? Kirain bakal sama kayak Kinkakuji. Ternyata yang silver itu hanya bagian di atas atapnya saja, yang berbentuk menyerupai ayam (kalau gw ga salah).

20170420_173150-01

DSC03219-01.jpeg

Hanya dibutuhkan uang 500 yen untuk masuk ke dalamnya. Dan tenang aja, perjalanan menuju Ginkakuji juga banyak jajanannya kok.

Nishiki Market

Tempat favorit banget selama di Kyoto. Mungkin pada aneh kali ya, kok seneng sih ke pasar? Tapi buatku ini surga banget! Banyak buah-buahan, seafood, teh, pernak-pernik, acar, es krim, dan banyak lagi.

Kalau doyan icip-icip, mending bawa duit agak banyakan kalau datang ke sini. Too many things to try. Kalau ga inget trip ini on budget, kayaknya duitku uda pasti abis di sini sih.

Fushimi Inari Shrine

Pasti kenal dong lokasi dengan torii-torii warna orange menyala ini. Yepp, Fushimi Inari Taisha. Kuil Shinto yang ada di bagian Selatan Kyoto. Rutenya sendiri menanjak ke atas menuju puncak dari gunung Inari. Jauh banget kalau kita mau jalan sampai ke puncaknya. Tapi menurut pendapat teman yang mendaki sampai puncak, viewnya sepadan dengan usaha untuk menanjak ke puncak.

Tapi, karena ini area wisata yang mainstream, bisa dipastikan wisatawannya lebih ramai dan harus sabar untuk mendapatkan view jalur yang kosong untuk mendapatkan torii nya. Dan lebih susah lagi kalau mau coba selfie sendiri. Hahaha. Tentunya harus minta tolong sama orang lain. Biasanya aku memilih wisatawan lain yang pakai DSLR, dengan asumsi hasil fotonya tentu lebih bagus (asumsi ngasal sebenarnya).

20170420_171513-01.jpeg

20170420_171557-0120170420_171403-0120170420_171656-01DSC03302-01DSC03303-01

Arashiyama

Another must list in Kyoto. Bamboo forest di Arashiyama. Tapi……….. rame banget pengunjungnya ketika aku dateng kemarin. I totally could not feel the ambience. Pasti menenangkan deh, duduk di bawah hutan bambu sambil menikmati dango dan menyesap ocha dingin. Nyams!

DSC03363-01DSC03367-01DSC03368-01

Kinkakuji

Bisa dipastikan juga lokasi ini padat wisatawan. So I just took a quick shot and then left. Oh ya, biaya masuknya 400 yen ya.

DSC03407-01.jpeg

Kyoto Imperial Palace

Ini adalah lokasi wisata terakhir yang aku kunjungi (sebelum menikmati ramen halal Ayam-Ya). Walau sempat salah naik bus dua kali dan sempat buat bimbang mau tetap lanjut ke sini atau berkunjung ke Nijo Castle saja. Tapi, melihat dari bus, kalau Nijo Castle juga rame banget, yaudah tetap ke tujuan utama aja.

Dan tempatnya luasssssss, sepiiii, tenangggg. Biaya masuknya gratis. Ketika kita masuk kita dapet visitor id dan securitynya banyak banget. Seketika berasa lagi ada di dalam drama Korea (padahal lagi di Jepang) yang settingnya kolosal.

DSC03415-01DSC03416-01DSC03423-01DSC03428-01DSC03433-01DSC03435-01

DSC03241-01

Akita Inu

DSC03240-01

Another tunnel of cherry clossom near Kamo river

20170406_114653-01

Reminiscence of Japan (part 1)

Nara

Sejujurnya, Nara zonk buatku. Dari awal aku bingung memutuskan antara mengunjungi Kobe atau Nara. Temanku juga sudah menganjurkan ke Kobe karena menurutnya “Nara itu ga ada apa-apanya”. Tapi searching lagi, lalu berpikir kayaknya aku akan lebih bahagia kalau bisa jalan-jalan di bawah Sakura yang bermekaran sambil ngasi makan rusa. Pasti gemas-gemas lucu pikirku.

20170502_144153-0120170502_144256-01

DSC02939-01

Isuien Garden

DSC02952-01

Isuien Garden

Pada kenyataannya, mostly sakuranya belum blooming *sad* Temple utamanya (Todaiji temple) juga lagi underconstruction. Hiburan yang tersisa hanya rusa-rusa yang berkeliaran bebas di Nara Park. Kita bisa memberi makan rusa-rusa ini. Makanannya khusus dan banyak dijual di sekitar park. Bentuknya kayak rice cake dan baunya harum. Malah sempat aku nanya ke penjualnya “Can I eat this?” Dianya ketawa. Yaiyalahhh…

Selama kita punya makanan ini, dijamin kita bakal terus dikejar rusa-rusa yang lahap banget makannya ini. Agak berasa geli sih pas jari kita terlalu dekat dengan mulut rusanya waktu ngasi makan. Basah gitu. 

DSC02971-0120170502_144054-0120170425_162534-0120170425_162602-0120170425_162453-0120170425_162514-01Osaka

Kesanku setelah mengunjungi Osaka, membosankan. Tapi mungkin ga adil ya langsung menyimpulkan begitu karena aku hanya menghabiskan waktu setengah hari di Osaka (sehari lainnya full di USJ). Sebenarnya ada satu lokasi yang pengen aku kunjungi, Osaka Aquarium, tapi ga keburu waktunya.

 

20170425_162706-01.jpeg

Path to guest house

20170425_162349-0120170425_162410-01

DSC03029-01-01.jpeg

Night view of Osaka from my guest house

  • Osaka Castle

Ini kayaknya menjadi tujuan yang wajib didatengin kalau ke Osaka. Osaka Castle ini lokasinya di tengah taman yang luasssssssss banget dan jalan menuju ke castlenya sendiri jauh banget! Pas banget hari pertama aku sampai di Osaka badanku lagi drop banget. Super capek. Tapi untungnya, lagi-lagi, selayaknya lokasi wisata lainnya, banyak yang jual makanan! Dan seketika capeknya hilang.

DSC03000-01DSC03013-01

  • Dotonbori

Lokasi lain yang wajib didatengin. Banyak banget makanan dan pusat perbelanjaan di area ini. Dan tentunya that iconic location, the Glicoman. Ya tapi karena gambar yang aku punya failed, ga usah dipost deh ya. 

DSC03053-01.jpeg

  • Universal Studio Japan

Tujuan utama ke Osaka, ya untuk masuk ke sini. Khususnya the Wizarding World of Harry Potter! Harga tiket regulernya 7600 yen (sudah include tax).

DSC03030-01.jpeg

 

I was so HAPPY that day! Ngerasain rasanya jalan di Diagon Alley, ngeliat Hogwarts Express, nyobain butterbeer, megang wand nya Harry, ngeliat Hogwarts, ngerasain gimana di dalam Hogwarts, ngerasain gimana rasanya naik sapu terbang! I cried a little honestly. So that’s how it felt to live your dream. I totally act like a teenager that day and almost forget my actual age. Truly happy!!!

Oh ya, untuk Wizarding World of Harry Potter ini ada time ticketnya (jadwal masuk ke wahananya). Jadi kita ga bisa langsung masuk begitu aja. Beruntung, waktu aku ke sana kemarin, ga perlu pake time ticket! Langsung masuk aja! Woohoooo!!!!

20170405_112711-01

Hogwarts Express

20170405_112915-01

The Fying Ford Anglia

DSC03031-01

Diagon Alley

DSC03032-01

Hogwarts

 

Awalnya pas tau aku akhirnya harus ke Jepang sendirian, sempat mikir aneh gak ya kalau main ke theme park sendirian? Ternyata ga sama sekali! Serunya sama aja. Bahkan waktu ngantri di setiap wahana lebih cepat. Jadi, di setiap wahana ada 3 jalur antrian, regular, express, dan single rider. Antrian single rider ini hamper sama cepatnya kayak antrian express. Kalau yang aku liat, single rider dipakai untuk Menuhin kuota. Misalnya, satu wahana jatahnya 4 kursi, sedangkan baru ada 3 orang, diambillah 1 orang dari single rider tadi. Total sehari (9.30 – 17.00) aku berhasil dapet 5 wahana. Lumayan banget, ga perlu beli express pass.

Permainan lain yang aku coba: 

  1. The Flying Dinosaur – ini sejenis jet coaster, dengan posisi kita digantung menyerupai burung (makanya disebut Flying Dinosaur). Gimana rasanya? Seram. Tapi cepet banget. Rasanya baru mulai, tau-tau uda selesai. 
  2. Amazing Adventure of Spiderman – baca dari beberapa artikel, katanya ini seru. Pas main, orang di kanan kiri teriak-teriak. Gw? Cuma diem. Patut dicoba? Ga sih kalau menurutku. Ga menegangkan. Ga buat takut. Ga seru. Bi-a-sa aja.
  3. JAWS – ini sebenarnya lebih ditujukan untuk pengunjung anak-anak ya. Tapi ini justru lebih seru dari Spiderman menurutku. Mba-mba dan mas-mas nya jago acting. Tapi sayang ga paham dia ngomong apaan. Tapi paham jalan ceritanya, dan dapet deg-degannya (buat ukuran anak kecil yaa).
  4. Hollywood Dream – di sini ada 2 pilihan jalur. Mau pilih naik roller coaster yang arah geraknya maju atau mundur. Aku pilih yang mundur dong ya, kan anaknya (pura-pura) pemberani. Ya Allah! Ini seram kaliiiii!!!! Dan ini tipe roller coaster yang pengamannya itu cuma berbentuk pegangan kayak Kora-kora di Dufan (jauuuh lebih aman tentunya) gak ada pelindung dari atas (paham kan ya??) Jadi rasa takutnya lebih memuncak. Ga tau kapan tracknya akan turun, kapan akan mutar, dan kapan berhenti. Ini juara banget seramnya. Kalau adrenaline junkie harus banget coba yang ini!

Sebenarnya kalau kita betah di USJ sampai malam, katanya bakal ada night paradenya. But I need to catch another place, jadi memutuskan pulang sebelum matahari terbenam.

 

Food Diary in Japan

pixlr_20170417151142240.jpg

Aku selalu suka makanan Jepang. I consider it as one of my comfort food, walaupun harganya ga comforting sih di kantong. Karena itu, mimpi lain yang pengen aku wujudin ketika di Jepang adalah makan sushi langsung di Jepang. Ga harus the BEST sushi, cukup sushi aja, selama di Jepang, aku uda bahagia! (mureee banget anaknya)

Selain sushi ada beberapa makanan lain yang pengen aku cobain, mau tau cita rasa aslinya gimana sih?

So, here are list of food that tasted while I’m in Japan.

  1. Sushi

Aku nyobain dua tempat, Sushizanmai (Tokyo) dan Musashi Sushi (Kyoto). Dari awal aku ga nyari secara specific mau makan di mana, cuma ngikutin arahan temenku doang. Balik ke Jakarta, search di Google, baru tau kalau Sushizanmai itu terkenal di Tsukiji. Yang aku makan ini di daerah Asakusa. Harganya lumayan sih, tapi enak banget!

20170417_130228.jpg

Kalau Musashi Sushi, konsepnya lebih ke Sushi Bar, bisa comot langsung. Tapi juga bisa pesan menu lain dari daftar menunya. Biar hemat aku ambil aja yang ada di bar yang harganya terjangkau (bisa dilihat dari warna piringnya). Miriplah ya kayak kita di Sushi tei. Nah, di sini tuh lumayan ngantri. Kemarin aku datengnya cepet sih, jam 6 PM, langsung dapet tempat duduk. Lima belas menit makan ga berasa uda abis sepuluh piring aja.

IMG_20170417_125338_334.jpg

  1. Ramen

Ramen juga aku nyobain di dua tempat dan dua-duanya halal. Nyari ramen halal agak tricky di Jepang, karena mostly kuah kaldunya dibuat dari tulang babi. Jadi, nemu ramen halal rasanya bahagia banget!

Pertama aku nyobain di Naritaya Ramen, seputaran Asakusa juga, tapi ini rasanya B banget sih menurutku. Kuahnya kurang nendang gitu. Kalau bisa disimpulkan sih sebenarnya aku ga ngerekomendasiin yaa.

20170417_130136.jpg

Yang kedua Ayam-Ya Ramen. INI ENAK BANGET! YA ALLAH! Aku nyobain yang di Kyoto (di Tokyo juga ada). Aku pesan yang “extra rich soy ramen” sama Karaagenya. Kuahnya gurih banget, kental, pas banget dimakan anget-anget di cuaca Kyoto yang hujan hari itu. Ini juga antriannya lumayan. Dan lagi-lagi aku beruntung karena aku datengnya sekitar jam 6 PM.

IMG_20170417_125523_052.jpg

Ada satu lagi ramen halal di Osaka. Namanya ramen Honolu. Tapi kemarin ga aku kejarin, karena uda kekenyangan makan Takoyaki. Kalau menurut temenku yang sempat nyobain, ramen Honolu lebih enak rasanya dari Ayam-Ya ini.

  1. Takoyaki

Dari sebelum pergi uda beberapa kali pengen makan takoyaki, tapi mengurungkan niat sambil bergumam dalam hati “nanti aja makan di Jepang”. Temenku rekomendasiin kalau mau makan takoyaki di Osaka. Lagi-lagi ada dua yang aku cobain, di seputaran Osaka castle sama di seputaran Dotonbori. Both rasanya sama aja kayak yang di Indonesia ternyata.

Ada satu lagi yang aku cobain, bentuknya mirip kayak takoyaki, tapi adonannya lebih berasa telur dan makannya dicelupin ke kuah dashi gitu. Namanya Akashiyaki. Ga sempet foto aslinya. Langsung disantap habis.

  1. Soft serve matcha

Ini hal wajib lainnya. Soft serve rasa matcha! Enaaaaaakkkkkk! (apa sih yang ga enak buat gw)

20170417_130553.jpg

Selain soft serve, yang menarik lainnya adalah Matcha Ichigo Daifuku. Mochi rasa matcha yang di tengah-tengahnya ada strawberry gede. Itu juga enak! Strawberrynya manis!

20170417_125952.jpg

Selain matcha, rasa lain yang perlu dicobain adalah Sakura Mochi!

Sakura mochi sendiri berupa lapisan tipis mochi rasa Sakura yang diisi sama kacang merah dan dibungkus dengan daun Sakura. I’m not a fan of red bean. Jadi, aku ga suka.

Berikutnya aku coba soft serve rasa Sakura Mochi. Baru enak! Manis-manis, agak ngingetin sama es doger. Hahahaha. Jauh sih rasanya dari doger, tapi warna pink sama manisnya mirip kayak es doger.

20170417_130054.jpg

Satu lagi yang aku suka snack yang biasa aku beli di Family Mart. Kayak dorayaki gitu, isinya juga ada kacang merahnya, tapi ga banyak, jadi ga mendominasi rasa Sakura mochinya.

20170417_130620.jpg

  1. Strawberry

Ini mungkin hal terakhir yang jadi inceran aku. Makan strawberry yang ukurannya gede dan rasanya manis. Ada beberapa kali deh aku beli selama di sana. Harganya bervariasi, tergantung ukurannya.

20170417_125619.jpg

Dan lucunya, ada strawberry yang warnanya pucet begini. Aku ga nyobain sih, karena harganya justru lebih mahal.

20170417_130822.jpg

Selain makanan di atas ada beberapa makanan yang berhasil aku abadikan sebelum disantap habis:

20170403_192656.jpg

Gyudon

20170406_172810.jpg

Kaniboko

20170417_130028.jpg

Onigiri kesukaan, rasa tuna mayo, sarapan wajib tiap hari

20170417_130504.jpg

The famous Pablo cheesetart yang rasanya biasa aja

IMG_20170417_125802_855.jpg

Butterbeer! Every Potterhead dream!

DSC03568.JPG

Plate of sushi at Tsurutontan, they serve super big bowl udon

20170417_130525.jpg

Orange juice langsung dari buahnya

20170402_105501.jpg

Dango, but I prefer yang dikasi olesan saos coklat gitu

 

How to prepare your Japan trip (Spring)

1491617365730.jpg

Well, kalau kalian follow Instagramku, kalian pasti tau kalau aku baru balik dari spring trip ke Jepang. Trip that I’ve been dreaming since forever! Aku bakal share sedikit proses aku mempersiapkan trip ini. FYI, trip ini lebih untuk kalian yang backpacker dan orientasinya bukan untuk belanja yaa..

  1. Tiket

Tentunya ini hal wajib pertama yang harus dipersiapkan. Gimana cara dapet tiket murah? Dateng ke travel fair! Atau beli tiket promo via online. Kemarin aku dapetnya dari Kompas Travel Fair di Panen Tour, China Airlines dengan harga sekitar 4,8 jt dengan tujuan Jakarta – Tokyo – Jakarta. (Pada akhirnya aku menemukan bahwa flight ini zonk, will explain it later).

Selain beli tiket promo, cara lain untuk menurunkan budget tiket adalah dengan memilih rute selain Tokyo, misalnya Osaka atau Sapporo or else.

Perhatikan juga apakah flight yang kalian pilih direct flight atau ada transitnya. Pilihan terbaik tentunya direct flight, menghemat waktu pasti. Atau kalau memang ga nemu direct flight yang harganya sesuai, boleh pilih yang 1 kali transit.

Nah, kenapa tiketku zonk? Awalnya aku hanya dapet info akan transit 1 kali di Taipei. Beberapa hari sebelum pergi iseng googling durasi flight Jakarta – Taipei. Lima jam doang ternyata. Lah, kok ya di itinerary aku sampe makan waktu 7 jam. Googling lagi ternyata yang durasi 7 jam pake acara transit di Hongkong dulu. Aku ga tau sih ini yang ga transparan Panen Tour atau China Airlinesnya. Wasted time for sure. Apalagi kemarin aku pake acara ditinggal pesawat segala, jadinya harus bermalam di Taipei untuk catch flight besok paginya. *duh

  1. Visited city

Setelah dapet tiket, langkah selanjutnya adalah menentukan kota apa aja yang mau kita kunjungi. Aku dari awal selalu baca Japan Guide untuk cari referensi sebanyak mungkin tentang Jepang. Mulai dari destinasi kota, apa aja wisata yang bisa dilihat di kota tersebut, transport apa yang harus dipakai, berapa biaya yang dibutuhkan. Anything you need to know about Japan ada di sana. So, check it first.

Kemarin aku pilih 3 kota besar yang wajib didatengin (for first timer) Tokyo (4 hari), Osaka (2 hari), dan Kyoto (2 hari). Plus menyisipkan perjalan setengah hari ke Yokohama dan Nara di dalamnya.

  1. Hostel

Uda tau mau ke kota mana aja dan berapa lama waktunya, next booking penginapan. Karena trip ini bener-bener aku usahain low budget (banget) pilihanku jatuh ke airbnb atau hostel. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya pilih pakai hostel aja. Alasan utama karena akan lebih mudah search location hostel dari Google maps dibandingkan alamat lokasi airbnb.

  1. Plan full itinerary

Again, untuk plan full itinerary aku balik lagi ke Japan Guide untuk nentuin mau kemana aja. Ini aku kasih contoh itinerary ku ya Japan itin (yang mana pada akhirnya buyar ga diikutin sama sekali karena ditinggal pesawat tadi). Tips:

  • Pilih lokasi tujuan yang berdekatan. Mis: hari pertama fokus di wilayah North dan Central Tokyo, besoknya ke West Tokyo.
  • Pakai google maps untuk nentuin rute trip kita. Mana yang duluan dikunjungin, mana yang terakhir dikunjungin, biar ga muter-muter
  • Cari tau station terdekat dari lokasi yang kita tuju
  • Cari tau line yang bisa kita naikin
  • Cari tau biaya masuk plus hari dan jam operasionalnya
  1. Transport

Transport di Jepang yang paling mudah ya pakai kereta. Ada dua yang bisa kalian pilih. Mau pakai JR pass atau beli pass di masing-masing kota berbeda. Aku karena based on low budget tadi, lebih memilih untuk pakai pass yang berbeda di tiap kota (Tokyo Subway pass dan Kansai Thru pass), serta menggunakan bus malam untuk berpindah dari Tokyo-Osaka dan sebaliknya (willer express bus). Dari hasil kalkulasinya lebih murah dari pada aku harus beli JR pass.

  1. Passport & visa

Untuk paspor sudah pernah aku share di sini.

Nah, kalau untuk visa, sebenarnya gampang banget untuk yang uda punya e-passport. Tinggal datang aja ke kedutaan Jepang untuk dapet visa waiver nya. Do expect long queue line ya. Sedangkan, untuk kalian yang paspor biasa, agak ribet sih berkas-berkas yang harus disiapin. Bisa dicek di sini untuk list lengkapnya.

  1. Packing

The least excited thing to do. Packing! Sebelum packing, cek dulu perkiraan cuaca dalam periode kunjungan kita, lalu sesuaikan dengan pakaian yang kita bawa. Usahakan barang yang kita bawa muat di koper ukuran cabin. Tips (untuk spring/autumn):

  • bawa atasan sejumlah hari kunjungan, dan bawahan sepertiga dari hari kunjungan (mis: hari kunjungan 8 hari, atasan 8 dan bawahan 3).
  • Bawa 1 coat aja
  • Buat yang pakai hijab, better bawa hijab yang dua sisi, (you know what I mean kan?) jadi hari pertama bisa pakai pattern A, besoknya pakai pattern B nya.
  • Pakai sepatu yang nyaman dan gampang dilepas pasang! HARUS! Karena di sana kita bakal banyak banget jalan dan kalau masuk beberapa temple mereka minta kita untuk lepas alas kaki kita.
  • Bawa pelembab, karena udara dingin bakal buat kulit dan bibir kering.
  1. Pocket wifi/paket internet roaming

Well ya pastinya di sana butuh koneksi internet dong ya, either for search location or simply update di socmed (like I did mwahahaha). Ada dua pilihan yang bisa dicoba

  • Pocket wifi & sim card rental

Sejauh ini, dari hasil pencarianku, Rental CD Japan yang harganya paling murah. Bisa pilih pocket wifi atau sim card.

  • XL pass

Ini satu lagi pilihan yang membantu banget. XL pass. Jadi intinya kita aktivasi paket XL pass, agar paket internet local kita bisa dipakai selama kita di luar negri. Kalau dihitung-hitung totalnya mirip dengan biaya Rental CD Japan plus shippingnya. So I go with this option.

That’s all I guess….

I’m open for any questions

Pembuatan E-Passport

e-passportMau share cerita proses pembuatan e-passport nih.

Berhubung aku mau trip ke Jepang awal April nanti, aku niat untuk buat e-passport, karena passport lamaku uda habis masa aktifnya plus untuk ngejar bebas visa masuk Jepang.

Pembuatan e-passport saat ini baru bisa dilayani oleh kantor imigrasi yang ada di Jakarta dan Batam (yang aku tau loh yaa). Aku kemarin pilih di Kantor Imigrasi Klas 1 Jakarta Pusat, karena menurut pendapat beberapa orang yang aku tanya, antriannya ga seramai kantor imigrasi di Jaksel atau Jaktim, dan ga terlalu jauh juga dari kostku.

Aku uda plan nginep di rumah temenku di Kemayoran, biar deket dan bisa dateng pagi banget ke imigrasinya supaya dapet nomor antrian secepat mungkin. Aku baru gerak dari rumah temenku jam 5.30 AM. Sesampainya di imigrasi, uda rame aja orang ngantri di luar pintu gerbangnya.

Aku diminta nulis namaku di kertas yang uda disiapin sama bapak-bapak yang jadi koordinator antriannya. Aku dapet nomor urut 58. Gede banget yeee nomornya. Itu baru nomor antrian sesuai kedatangan loh yaa, bukan nomor antrian untuk pelayanannya nanti. Denger-denger, nomor urut 1 datengnya jam 4.30 AM. Niat banget yaakk, jam segitu mah gw masih ileran dahh..

Ketika gerbangnya uda dibuka, antriannya memendek karena pengantri yang berusia di atas 65 tahun, didahulukan masuk jadi mereka ga perlu ngantri lama.

Sebelumnya ini berkas yang harus kita siapkan (untuk paspor biasa maupun e-passport):

  1. akte kelahiran
  2. kartu keluarga
  3. KTP
  4. ijazah
  5. surat keterangan dari kantor (untuk KTP non-Jakarta)
  6. surat pernyataan paspor baru (beli di koperasi) / paspor lama

Seluruh data ini harus dibawa aslinya dan juga fotocopyannya dalam kertas ukuran A4 (jangan dipotong yaa). Jadi ada 6 berkas asli dan ada 6 berkas fotocopy.

Setelah antri di dalam halaman kantor imigrasi, mulai deh tuh satu-satu berkas aslinya diperiksa sama mas-masnya. Kalau sudah lengkap semua baru kita dikasi masuk ke dalam ruangannya. Kalau ga lengkap? Disuru pulang lagi untuk melengkapi berkas-berkasnya. Maleskan?! Makanya pastiin lagi semua berkas-berkasnya uda lengkap ya, terutama berkas asli. Kalau fotocopy ada yang lupa, kita masih bisa fotocopy di koperasi.

Sebenarnya antrian untuk pembuatan paspor ini ada dua cara, melalui walk in seperti aku ini, atau bisa secara online dengan mendaftar dulu di website mereka. Aku pilih yang walk-in karena dari yang aku baca-baca, pembuatan e-passport saat ini baru bisa dilayani secara walk-in saja. Oh ya, pemohon walk-in ini ada jatah per harinya, makanya orang rebutan dateng pagi buta banget biar ga kehabisan jatah sama pemohon lainnya.

Okey, lanjut lagi yaa..

Setelah data-datanya lengkap, kita akan dapet nomor urut baru untuk pembagian form aplikasi. Pengisian form harus pakai pulpen hitam. Kemarin aku ga bawa, jadi harus pinjem ke orang lain *duh*

Setelah diisi, kita tinggal menunggu giliran dipanggil masuk ke ruang interview. Di sini nih aku baru kena perkara dikit.

Awalnya aku kirain karena aku mau pindah ke e-passport, hitungannya aku buat paspor baru. Aku uda nyiapin dong surat pernyataan paspor baru dan dengan segaja banget aku ga bawa paspor lamaku karena mikir “ahh, paling ga perlu“. Taunya….. butuh! Uda ngebatin banget “duh besok harus izin ke boss lagi dong gw“. Tapi untung mba nya bilang

diambil aja dulu, saya tungguin sampai jam 3 PM. kalau bisa balik sebelum jam 3PM, masih bisa pakai no urut kamu yang sekarang. Kalau lewat berarti besok harus ngulang lagi

Buru-buru dong aku pesen gojek (thank God for whoever create this application) untuk balik ke kost ngambil paspor lamaku. Niat hati ke Kemayoran biar deket, taunya tetep harus balik ke kost juga untuk ambil dokumen lagi. Aku gerak dari imigrasi jam 10 AM, nyampe kostan 10.30 AM, trus langsung balik ke imigrasi jam 11 AM.

Langsung nemuin mba yang tadi sebelum mba nya kabur makan siang, trus diwawancara dikit doang, nanya standar mau ke mana. Trus foto. Trus uda. Kelar. jam 11.15 AM juga uda selesai. Sejam doang kebuang untuk mondar-mandir ke kost. Please, don’t do same mistake like I did guys.

Itu aku ga langsung bayar. Katanya nanti aku akan dapat sms yang infoin aku bisa bayar di tanggal berapa. Aku ngurusnya kemarin di tanggal 16 Februari 2017. Aku baru dapet sms pemberitahuan untuk pembayarannya di tanggal 20 Februari 2017. Paspor nya sendiri sudah bisa diambil hari Jumatnya (24 Februari), tapi aku tunda di minggu depannya, biar sekalian daftar visa waiver ke kedutaan Jepan.

Oh ya, total yang harus dibayarkan untuk pembuatan e-passport sebesar IDR 655,000. Pembayarannya juga gampang, bisa lewat teller bank atau internet banking. Aku sih kemarin dari internet banking mandiri biar gampang.

Nanti aku share di postingan terpisah ya untuk pembuatan visa Jepang nya..

 

Dieng Culture Festival 2016

I’ve been planning and waiting for this trip since April!

Selain memang uda dari lama pengen ke Dieng, alasan utama mau ikutan Dieng Culture Festival adalah pengen ngerasain sendiri berdiri di bawah ribuan lampion yang diterbangkan secara bersamaan sambil humming lagu “I see the light”. Cheesy reason I know, but I cant help my self 😆

Day 1

Hari pertama dimulai dengan perjalanan dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto yang memakan waktu kurang lebih 5 jam menggunakan fasilitas kereta ekonomi. 

Nah, buat yang belum pernah naik kereta ekonomi, sedikit tips, bawa bantal leher ya dan kalau bisa duduk dekat jendela. Selain bisa senderan pas tidur, juga dekat sama colokan.

Sesampainya di Purwokerto perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bis menuju Dieng yang mana aku gunakan untuk, tidur lagi. Sampai ga tau kota-kota kecil apa yang kita lewati dan berapa lama waktu tempuh menuju Dieng.

Tiba di Dieng, kita langsung ke homestay. Homestay di sini adalah rumah-rumah warga yang disewakan untuk menjadi penginapan sementara bagi pengunjung yang datang. Homestay yang kita dapat bagus dan bersih, udah ada pemanas airnya juga kalau kita mau mandi. Karena air di Dieng dingin banget! Kayak mandi pakai air es.

Sebelum mulai eksplor wilayah Dieng, kita menikmati menu wajibnya dulu, yaitu Mie Ongklok.

Perjalanan pertama dimulai di kawah Sikidang. Kalau datang ke sini, wajib pakai masker atau pashmina untuk menutupi indra penciuman, karena bau belerangnya tajem banget. Di bagian ujung ada kolam besar yang masih menggelegak dan mengeluarkan asap putih tebal. 

Next kita lanjut ke Batu Ratapan Angin, Telaga Warna dan Jembatan Merah Putih. Ketiga tempat ini berada dalam satu lokasi yang berdekatan. Agendanya ngapain di sini? Yaa… foto-foto 😅

Oh ya, di setiap objek wisata di Dieng pasti ada ibu-ibu yang jual kentang atau jamur yang seperti menjadi hasil bumi utama di Dieng. Kentangnya pulen sih, plus mendukung banget dimakan pas hangat-hangat di tengah suhu Dieng yang dingin (around 16°C kalo siang). Selesai dari Telaga Warna, kita balik ke homestay dan bersiap untuk Jazz Atas Awan day 1. 

Jazz Atas Awan diselenggarakan di dekat pelataran Candi Arjuna. Setiap pengunjung VIP mendapat 1 porsi kentang yang dimasak dengan gravy yang rasanya mirip kuah semur. Kayaknya menunya salah deh ini. Karena akhirnya banyak bertumpahan, padahal kita nontonnya sambil duduk di bawah tanpa ada alas. Buat yang taun depan mau nonton, bisa siapain koran atau terpal untuk alas duduk kalian ya, biar pakaian ga kotor dan juga ga cepat berasa dingin. 

Untuk hari pertama, pengisi acaranya adalah band-band Indie dengan aliran Jazz yang berasal dari luar Jawa Tengah. Kita hanya menyaksikan penampilan dari Glanze (Jakarta) dan Tesla Manaf (Bandung). Glanze bagus deh penampilan panggungnya, suaranya juga bagus, tapi kita lebih banyak ga tau lagu-lagu yang mereka bawain. Padahal badan bawaanya pengen sing along lagu-lagu yang familiar di telinga biar dinginnya ga berasa. Jadi, kita milih buat pulang aja, tidur cepat karena besok kita harus bangun pagi buta buat ngejar sunrise.



Day 2

Hari kedua dimulai dengan bangun jam 3 dini hari. Asli, berasa baru tidur bentar tapi harus siap-siap ngedaki lumayan lama. Dieng dingin banget!!!!!!!!!!! (coba hitung berapa kali gw uda nyebut “dingin” dari tadi).

Medan trackingnya lumayan buat ngelatih otot kaki. Sebaiknya seminggu sebelum ke Dieng, rutin olahraga ya, biar staminanya terlatih jadi ga cepet berasa capek. Ada beberap spot untuk menikmati sunrise di Dieng, puncak Sikunir, bukit Skuter atau bukit Pangonan. Kita milih lokasi terakhir, biar ga ngantri naiknya, padahal tetep aja ngantri 😜

Puas foto-foto di atas bukit Pangonan, kita balik menuju ke bawah, ke savana Pangonan, dan foto-foto lagi.

Sampainya di homestay, kita istirahat dulu sebelum menuju puncak Sikunir.

Pendakian menuju puncak Sikunir lebih pengunjung-friendly, karena uda ada tangga sederhana yang disediakan serta pegangan dari tali tambang besar yang membantu kita untuk mendaki. Sayangnya, sesampainya di atas, lagi mendung. Padahal kalau cerah, kita bisa melihat Gunung Sindoro dari puncak Sikunir. Kita buru-buru balik karena mendung makin tebal. Dan benar, ga lama kemudian hujan turun. Makin licin track yang harus ditempuh.

Sampai ke homestay hujan juga belum menampakkan tanda-tanda berhenti. Udah agak khawatir ga bisa nerbangin lampion, since itu moment yang gw tunggu banget. 
Selepas isya, akhirnya ujan berhenti! Kita buru-buru menuju ke pelataran Candi Arjuna untuk menyaksikan Jazz Atas Awan day 2. Kali ini datang tanpa ekspektasi tinggi. Tapi justru di hari kedua ini lebih bisa menikmati acaranya karena banyak yang membawakan lagu-lagu yang familiar di telinga. Ga berasa dingin deh.

Hari kedua pengisi acaranya full band-band yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. Penampilannya jauh lebih bisa dinikmati, banyak lagu yang bisa dinyanyiin bareng-bareng. Ditambah dengan penampilan dari Anji yange ngebuat suasana menjadi lebih riuh. Gw bukan penikmat lagu-lagunya Anji. Tapi lagu-lagu yang dibawa Anji malam itu berhasil dengan sukses ngebuat gw baper 😣😣

Favorit gw adalah puisi dari Khrisna Pabichara yang dimusikalisasi oleh Anji dan jadi bagus banget. 

Daaaaaaannnnnn akhirnya acara puncak yang gw tungguin. Penerbangan lampion.

That was great night for sure! Cant stop smiling all night.

Day 3

Dan kita memasuki hari terakhir yang menjadi puncak acara, pemotongan rambut anak gembel/gimbal. 

Jadi, katanya untuk pemotongan rambut anak gimbal ini harus melalui ritual khusus. Kalau dipotong dengan cara biasa, anaknya nanti bisa demam dan rambut gimbalnya tumbuh kembali. Nah, anak-anak yang mengikuti proses ritual inu juga hanya anak-anak yang memang mau rambut gimbalnya dipotong, tanpa ada pemaksaan dari orang tuanya. Sebelum rambutnya dipotong, keinginan anak-anak gimbal harus dipenuhi terlebih dahulu. Ada yang minta anak sapi untuk dipelihara, durian 5 buah (gw mah bakal minta setruk kayaknya), baju dengan gambar Frozen, bahkan ada yang cuma minta ikat rambut 2 buah aja. 

Sebelum proses pemotongan, anak-anak ini dikumpulkan di rumah ketua adat. Kemudian mereka diarak menuju Candi Arjuna. Sesampainya di sana baru proses pemotongan dilakukan dengan sebelumnya dibacakan doa-doa yang aku ga paham isi dan artinya karena diucapkan dalam bahasa Jawa. Setelah dipotong, rambut-rambut tersebut nantinya akan dilarung di Telaga Warna untuk menyempurnakan prosesinya. Diyakini dengan mengikuti ritual ini, rambut gimbal tidak akan tumbuh kembali.
So, that’s the end of this AWESOME trip.
Deeply I am truly happy and enjoy it very much. Perjalanan yang menarik bersama orang-orang yang menyenangkan.

 You know that saying “we just met, but I feel like I’ve known you for years”. Persis banget itu yang aku rasain ke teman-teman baru dalam trip ini. Kombinasi pas yang menciptakan memori manis untuk bisa aku ingat dalam waktu yang lama.