Movie Review: Beauty & the Beast

Source: google.com

We’ve all waited for this since year ago. And I also, at first, got my self thrilled watched its trailer for the first time and could not wait to watch it my self. Main attraction for me of course Emma Watson. I always love female actress who have strong character in their personal life, like Watson, Stone or Bullock. And I have been loving her since Harry Potter saga movies *Potterhead detected*

So, I managed my self to get a ticket on the first day it released, even though the excitement has no longer high as the first time I watched the trailer.

And, from my personal view, I did not like it as a whole pack.

No, I like the singing, the dancing, dresses, the set up, Belle, Gaston, and even the talking candle.

So why?

Emma Watson + book = Hermione Granger. It is hard for me to see her as Belle. Since she already filled my mind set with the image of super smart worm book muggle for over 6 years when she played the character of Hermione.

The movie showed how Belle loves to read so much, she even create things to make her daily life more efficient. And because of reading, she dreams to see the world and eager to find out more what mother earth has to offer. The whole scene move smoothly until she met the Beast. I even put wide smile when the Beast show Belle his magnificent library and Belle spontaneously go WOW over those books. But suddenly the scene moves to Belle and the Beast wandering around snowy garden and she sings that showing somehow she see something different from the Beast. She give signal to us that she start to have feeling for the Beast. Why so fast?

And there my friend when I stop watching it closely.

Simply because it didn’t show enough process of how Belle fall for the Beast. I am a sucker for romance. and this was not enough for me. And poofff the whole magic just gone.

But after all, it was still entertaining even though lacking on romance plot.

 

Advertisements

Ospekan? Perlu?

Timeline Twitter tiba-tiba rame ngebicarain masalah junior baru di salah satu fakultas di USU (yes, sekarang sedang masa orientasi) yang ngetweet bilangin senior di kampusnya kayak sampah. Dan efek dari tweetnya dia ternyata “oke” banget. Dari satu foto yang dishare teman di twitter, keliatan kalau si anak baru ini dibantai sama senior. Di foto itu kelihatan kepala si mahasiswa baru ditutupin sama tong sampah, dan bajunya kelihatan basah. Ga tau deh basah karena disiram air atau basah karena air yang ada di tong sampah itu *ewww*

Sebagai senior, aku bisa ngerti kalau ada perasaan ga senang ketika membaca tweet si mahasiswa baru. Berani banget masih mahasiswa baru uda ngata-ngatain senior. Tapi kalau sampai nutupin kepala orang pakai tong sampah? I think it’s too much. Kalau memang mau ngasi “pelajaran” untuk junior-junior baru, menurut aku cara-cara seperti itu ga tepat. Apa hak nya senior untuk berbuat kayak gitu? Karena mereka senior? Dan pasal 1 menyebutkan senior selalu benar? Ahahaha,, mana ada senior yang selalu benar. Memangnya senior Tuhan? (ehh, kenapa jadi emosi?)

Tapi kalau ngeliat tweet si mahasiswa baru. Perilaku kayak gini yang sering dijadikan “alasan” kenapa ospek perlu dilaksanakan. Katanya kalau ga diospek ya junior-junior jadi ga tau sopan santun sama seniornya. Tapi apa kalau ikutan ospekan terus ntar junior-juniornya jadi lebih sopan gitu? Sejauh observasiku, yang ikut ospekan aja masih bisa gak sopan kok perilakunya.

Jadi ospekan itu ada manfaatnya? Menurut pengalamanku, ospekan ga memberi manfaat, tapi hanya sebatas pengalaman yang bisa aku kenang ketika aku uda jadi sarjana atau kapan pun itu. Sebatas itu aja. Ospek bisa buat kenal sama senior? Masak sih? Ga semua senior kok jadi panitia ospekan. Ga bisa bener-bener kenal senior dong? Sisanya, aku ngeliat ospekan sebagai arena “pembalasan” atau “ambil jatah”. Ambil jatah pengen ngerasain gimana ngebentak-bentakin anak orang, gimana rasanya ngasi tugas yang aneh-aneh, atau nyuru junior untuk buat yang aneh-aneh. Ya, sebatas itu aja.

My Dream Holiday

Found out this topic from an English group on Facebook. English with Desi Anwar. Here I need to describe the location, what activities I will do, and the person who will accompany me in the trip.

Well, talking about dream holiday, it always won’t be far from the word Europe. I always wanna try and feel Europe. Somehow, I (know I will) love Europe.But Europe just a general view of my holiday destination. If I need to be more specific, I’d like to try London (of course), French, Spanish, Holland, and I added two more, Italy and Greece (there’s an island called Santorini). And, ahh, Cappadocia!!!!

My devotion to Europe started years ago when I was just a girl in junior high. I remember my self often  watched “Intimate Escape”.  It was a program from Discovery Channel. I don’t know the original aim of  this program. But to “me”, the aim of this program was to open up my eyes and made me realize how big this world is. How many places I should visit and sadly how much money will it cost to travel those places.

The program mostly took places around Europe or South America. And I always love the view, the hotel room, and the most important, the foods! Then there was a light came up to my mind and ringing something like “You need to feel it yourself”. So, yaa, that’s how this dream begun.

What activities I will do? I don’t have detail plans about what will I do in my dream holiday. Because it’s still in the stage “dream”. I think I’ll make a real plan when this dream holiday turns to real holiday. But one thing for sure, I wanna watch Chelsea when I touchdown in London. Woohooo!!!!

And with whom I’d like to travel? I always think it would be great having a journey with our loved one. Lover I mean. Spending a good quality time and just enjoy the view, foods, and the magnetic feeling (okay, I’m being too much right here).

So, yaa, I think it’s all about my dream holiday. I hope it won’t be just a dream.

ps: beside Europe, I do wanna fly to Korea. I need to meet someone. Or some boys maybe.

Jengah!

Beberapa bulan ini aku selalu menggunakan jasa angkutan umum untuk pergi ke kampus dan balik lagi ke rumah. Nah, karena gak ada angkot yang lewat langsung di depan rumah, jadi aku harus jalan (menurutku jarak dari rumah ke simpang ga begitu jauh, nanggung kalau harus naik becak lagi) dulu sampai ke simpang lampu merah, baru dari simpang itu aku nunggu angkotnya.  

Yang aku ga suka dari proses “jalan” ini adalah ada spot-spot yang ada laki-laki usilnya, yang suka siul-siul kurang ajar kalau aku lewat (kalau cewek-cewek lain lewat juga mungkin). Aku paling ga suka dan jengah sama yang kayak begini dan biasanya aku bakal langsung nanggapin dengan ketus. Dulu kalau mulai ada yang nyiul-nyiul begitu, biasanya aku bakal mempercepat langkahku. Tapi sekarang, aku milih untuk berhenti, kemudian noleh ke arah datangnya siulan dan ngeliat siapa orang yang berani nyiul-nyiulin aku. Dari beberapa kesempatan, waktu aku ngeliat muka mereka, mereka masang muka flat, seolah-olah bukan dia yang nyiul tadi. Apa-apaan itu? Pengecut?

Kenapa sih cowok, laki-laki, pria atau apalah sebutannya bisa berbuat kayak gini? Mungkin gak di semua kalangan sosial bakal sama caranya, tapi paling gak inti dari perbuatannya sama. Buat wanita ga nyaman dan memberi kesan wanita ga berharga sampe bisa disiul-siulin kayak gitu.

Mungkin kalau dari sisi cowoknya bakal bilang, ya bukan sepenuhnya salah pihak cowokkan? Bisa aja gara-gara wanitanya yang “mengundang” disiul duluan seperti pakaian yang terbuka sana-sini.

Tapi aku ga merasa pakaian aku terbuka kok, kenapa disiulin juga? Ga tau apa gimana risihnya disiulin? Apa perlu disiulin juga biar tau gimana rasanya?

Rasanya bener-bener ga enak, ga nyaman. Apa ga bisa gitu biarin kami jalan kayak biasa aja tanpa harus digangguin? Atau ini salah satu bentuk lain dari sexual discrimination di mana cowok merasa mereka punya posisi yang lebih kuat dari wanita, lebih berkuasa, jadi bisa lebih seenak-enaknya dengan wanita? Merasa wanita lebih lemah jadi kemungkinan untuk membalas kecil? Begitu?

Lalu, apa yang harus dilakukan wanita kalau berada dalam posisi seperti ini? Apa yang bisa dilakukan wanita biar dia tetep merasa safe? Karena aku ngerasa yang aku lakukan belum buat aku puas, belum buat aku merasa safe. Kadang jadi terpikir harusnya dulu ikutan les bela diri.

Power Issue

Seems like our world facing such serious power issues nowadays. Berita isinya tentang konflik di Libya, Yaman, Mesir atau negara apa lagi. Aku ga tau detailnya mengenai kerusuhan yang ada di negara-negara itu (hasil ga pernah baca koran, jarang nonton berita dan kalo browsing cuma maen game -___-). Tapi inti masalahnya kayaknya selalu sama, pemimpin yang terlalu terlena dengan kekuasaan yang berkepanjangan.

Mungkin hampir sama kasusnya dengan kasus Nurdin Chalid yang bolak-balik dibahas di televisi. Diminta turun karena prestasi sepak bola Indonesia yang amburadul, tapi dia ga mau turun dengan berbagai alasan.

What’s so great about power?

Power is definitely huge! Apalagi kalau ditemani dengan uang yang banyak. Katanya anda bisa membeli dunia dengan kedua hal ini. Anda akan punya berbagai koneksi ke sana kemari. Anda akan dikenal orang banyak. Anda bisa mendapatkan apa saja yang anda butuhkan. Anda punya banyak orang yang akan melakukan apa yang anda perintahkan. Mungkin alasan ini yang membuat orang-orang yang sudah punya posisi atau jabatan yang oke menjadi takut ketika masa jabatannya sudah habis dan berusaha keras agar dia yang terpilih kembali untuk memangku jabatan yang sama untuk kurun waktu selanjutnya.

Tapi, apa emang bener power atau kekuasaan ini bisa membantu kita membeli dunia? Kalau iya, dunia macam apa?

Memang benar kalau kekuasaan memang memiliki andil yang besar dalam hidup kita, anda akan dipandang sebelah mata kalau anda tidak punya kekuasaan. Sepintar apa pun anda, but without power, you’re just nothing.

Tapi menurut pendapatku, hidup ini sebenarnya tidak membutuhkan kekuasaan yang besar, yang kita butuhkan hanya kesederhanaan. Yes, just keep everything simple and you’ll be happy. Anda menganggap sebelah mata kesederhanaan bisa membawa kebahagiaan? Yah, paling gak ketika anda melihat kesederhanaan dengan sebelah mata, anda telah melakukan sedikit kesederhanaan dengan tidak melihat kesederhanaan dengan dua mata.

Balik lagi ke kasus Nurdin. Memang kalau tidak banyak yang diraih sepak bola Indonesia di bawah kekuasaannya, tapi apa memang perlu kita sehebat ini berdemo, mengeluarkan pendapat untuk menurunkan seorang Nurdin? Apa begitu besar arti sepak bola bagi kelangsungan bangsa kita? Last, I’d like to quote  my friend,  she tweeted,

” Hoalah. Orang2 di sana sibuk menciptakan sesuatu untuk bertahan hidup di bumi yg sudah tua ini. Kita masih berdebat soal ketua pssi! #ohmycountry

Mengkritik Cara “Mengkritik”

Apa yang bakal kita lakukan kalau seseorang melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu tidak sesuai harapan kita? Kritik. Itu biasanya yang bakal dilakukan orang-orang. Sebagai orang yang mau maju tentu kita harus mendengar kritik dari orang kan? Karena kritik itu berguna biar kita gak mengulang kesalahan yang sama. Dengan tujuan agar orang yang diberi kritik dapat lebih berkembang.

Tetapi mungkin masih banyak yang berpikir,”Dia orangnya gak bisa nerima kritik”. Ohya? Masak sih begitu? Mungkin ada benarnya kalau seseorang tipikal yang sulit untuk menerima kritik. Tapi bagaimana kalau yang salah adalah cara kita saat memberi kritik? Sadar gak kalau cara kita memberi kritik itu juga sangat berpengaruh dengan bagaimana cara orang tersebut menangkap kritik dari kita? Ada yang mengkritik spontan, tajam, langsung membahas apa yang kurang, apa yang salah. Tapi ada yang pelan-pelan, ngalor ngidul ntah kemana. Ada juga yang pelan tapi tegas, artinya memperhatikan perasaan orang yang dikritik dan juga tetap menyampaikan pesannya secara tegas.

Satu cara mengkritik yang aku ingat, waktu Giring jadi komentator di IMB dan dia ngasi komentar untuk Berto Pah. Di episode itu Berto mencoba main sasando sambil nyanyi, karena minggu sebelumnya ada juri yang memberi masukan gimana kalo dia main sasando sambil nyanyi. Jadi komentar Giring ”kalo gak salah”,”Tadi tuh saya udah nangkep auranya pas mas Fadli (padi) nyanyi trus kamu main sasando. Tapi begitu kamu masuk, semuanya buyar.” Nampak gimana perubahan wajah Berto, yang awalnya sumringah karena menunjukkan sesuatu yang baru, tapi begitu dapat kritik dari Giring, keliatan lemes banget.

Jadi ya, saat anda menilai seseorang tidak bisa menerima kritik, coba pikir lagi, apa memang benar dia yang tidak bisa menerima kritik, atau masalahnya ada dalam cara anda menyampaikan kritik tersebut.

Video Ariel, Lunmay, Cut Tari

Kasus video mesum Ariel – Luna – Cut Tari kayaknya membesar gak tentu arah deh. Jadi ga penting. Awalnya semua orang heboh karena ada video yang katanya “mirip“ sama Ariel- Luna – Cut Tari, padahal gambarnya keliatan banget kalo itu mereka. Setelah itu semua heboh ngebicarain video mesumnya. Sampe twitter itu bolak balik over capacity karena katanya kebanyakan orang yang ngetweet soal Ariel Peterporn, yang sempet jadi TT (Trending Topic) di twitter.

Awalnya kasus Luna Ariel Cut Tari gak ada disentuh, bisa dibilang sedikit, sama infotainment, gara-gara infotainment masih boikot Luna Maya karena tweet dia yang ngejelekin wartawan infotainment, yang sempat jadi kasus sekali itu juga. Jadi kasus Ariel Lunmay dkk, masuknya ke program saluran berita biasa. Rasanya malah makin parah kasus soal artis begini jadi masuk ke berita kayak begitu. Makin kesebar jadinya. Pagi ngomongin itu, siang ngomongin itu, sore ngomongin itu. Sampe dibuat berbagai macam variasi perbincangan gimana caranya biar gak menghindari video-video serupa ga dibuat lagi. Kasus Ariel dkk ini jadi kayak ngambil jatah yang terlalu gede dari berita-berita ini, gak tau juga deh apa ini dijadiin sebagai pengalihan dari kasus-kasus yang sebenarnya lebih penting dan lebih pantas untuk dibahas dan dikupas tuntas.

Ada yang mengeluh karena kasus Ariel dkk yang dibesar-besarin ini, adeknya yang masih usia SD jadi tau tentang kasus video mesum ini. Jadi kalangan yang sebelumnya gak aware ama kasus ini, jadi tau dan berkemungkinan mencari tahu sendiri tentang kasus ini. gimana coba kalo anak SD akhirnya penasaran trus download videonya terus dia nonton videonya gitu, terus disebarin ke teman-temannya, mau jadi apa coba jadinya anak-anak kecil itu? Kecil-kecil uda tau begituan.

Jadi kalau ada yang bilang kasus Ariel dkk ini merusak moral, well, program berita atau infotainment itu juga membantu semakin luasnya pengrusakan moral generasi bangsa dong jadinya?

Cepet-cepet aja deh dikelarin kasusnya. Kalo emang itu kalian udahlah ngaku aja, kalo karir hancur karena kasus kayak begini, ya resiko.